JOGJA - Jogja Last Friday Ride (JLFR) tidak lagi diizinkan melintas di kawasan Malioboro. Kebijakan tersebut diambil setelah muncul keluhan warga dan wisatawan mengenai kemacetan serta terganggunya aktivitas di kawasan wisata. JLFR tetap digelar, tetapi menggunakan rute alternatif.
Apa itu JLFR
Jogja Last Friday Ride (JLFR) merupakan gerakan bersepeda yang selalu digelar pada Jumat terakhir di setiap bulan ini, boleh diikuti oleh siapa saja, berbagai usia, dengan jenis sepeda apapun. Dan dilaksanakan pada malam hari.
Kegiatan bersepeda ini selain memberikan manfaat bagi kesehatan, gerakan bersepeda ini juga menjadi salah satu bentuk pembudayaan penggunaan sepeda, transportasi yang ramah lingkungan. Salah satu icon gerakan organik masyarkat yang patut kita banggakan.
Baca Juga: Dikeluhkan Warga dan Wisatawan hingga Berkata Kotor saat Lewat, JLFR Dilarang di Malioboro
Mengapa JLFR Dilarang Melintasi Malioboro?
Polresta Jogja dipastikan membatasi agenda bersepeda Jogja Last Friday Ride (JLFR) di kawasan Malioboro. Hal tersebut diklaim aparat sebagai langkah menjaga citra kota pariwisata. Perbincangan publik terkait aturan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
Kasatlantas Polresta Jogja AKP Alvian Hidayat menyatakan, peristiwa itu terjadi pada Jumat (26/6) saat JLFR ke-194. Tindakan penolakan itu sebagai langkah kepolisian untuk meminimalisasi konflik di kawasan Malioboro saat masa libur sekolah yang cukup ramai wisatawan.
“Karena beberapa waktu terakhir sering mendapat keluhan dari masyarakat hingga wisatawan,” ujar Alvian kepada Radar Jogja melalui sambungan telepon, Selasa (30/6).
Baca Juga: JLFR Digelar Saat Lalu Lintas Padat Libur Akhir Tahun, Dishub Kota Jogja Imbau Pesepeda Hormati Wisatawan
Keluhan Warga dan Wisatawan
Sejumlah warga mengaku iring-iringan pesepeda membuat arus kendaraan tersendat. Tidak sedikit wisatawan yang merasa terganggu karena harus menunggu rombongan melintas saat menikmati kawasan Malioboro.
Pelaku usaha di sekitar Malioboro juga menyampaikan bahwa kondisi tersebut berpotensi mengurangi kenyamanan wisatawan.
Terkait dengan narasi represifitas aparat dalam video yang beredar, Alvian menampik hal tersebut. Menurutnya para petugas di lapangan sudah melakukan pendekatan komunikatif dengan pesepeda.
Menurut dia, dari dulu itu JLFR sebenarnya tidak ada masalah masuk ke Malioboro. “Tapi puncaknya pada saat yang ke-184 atau ke-185 yang hampir 5.000 sampai 7.000-an itu ternyata menyebabkan banyak keluhan dari masyarakat,” tuturnya.
Baca Juga: Jogja Last Friday Ride JLFR Dikeluhkan, Timbulkan Macet
Alasan lainnya, Malioboro adalah panggung bagi citra Kota Jogja. Perilaku negatif seperti berteriak-teriak, berkata kotor, atau bersikap tidak sopan kepada wisatawan yang dilakukan peserta JLFR dapat merugikan ekosistem pariwisata lokal.
“Selama belum mau untuk berkolaborasi, diatur dengan baik, ya berarti kita lebih baik menghindari risiko (melarang JLFR di Malioboro),” tegas Alvian.
Apakah JLFR Tetap Digelar?
Ya. Kegiatan Jogja Last Friday Ride tetap berlangsung. Perubahan hanya dilakukan pada rute perjalanan sehingga tidak lagi melewati kawasan Malioboro.
Penyelenggara bersama pemerintah akan menyesuaikan lintasan agar kegiatan bersepeda tetap dapat berlangsung tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
Meski membatasi kegiatan JLFR di Malioboro, perwira polisi dengan tiga balok emas di pundak itu mengklaim sudah menjalin komunikasi dengan komunitas JLFR. Namun dia menyayangkan belum adanya respon positif atau komitmen dari komunitas JLFR untuk mengatur kegiatan tersebut secara lebih terstruktur.
Baca Juga: JLFR Jadi Wadah untuk Tegaskan Jogjakarta sebagai Kota Sepeda
Radar Jogja telah berupaya menghubungi perwakilan komunitas JLFR bernama Willy melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini ditulis yang bersangkutan belum memberikan tanggapan pasti.
“Sebentar ya mas. Ini masih ada rembukan dengan penggiat sepeda yang lain. Saya bisa bantu memberikan statement atas kejadian kemarin,” tulis Willy dalam pesannya.
Pada akhirnya kebijakan membatasi kegiatan JLFR melintas Malioboro merupakan upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas komunitas pesepeda dan kenyamanan kawasan wisata. Dengan pengalihan rute, pemerintah berharap wisatawan, warga, pelaku usaha, maupun komunitas sepeda tetap dapat menjalankan aktivitasnya tanpa saling mengganggu.
Editor : Jihad Rokhadi