Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jogja Last Friday Ride JLFR Dikeluhkan, Timbulkan Macet

M
Penulis: Magang Radar Jogja❯
Gelaran Jogja Last Friday Ride (JLFR).
Gelaran Jogja Last Friday Ride (JLFR).

RADAR JOGJA - Kegiatan bersepeda malam “Jogja Last Friday Ride (JLFR)" di Yogyakarta yang rutin berlangsung di akhir bulan kembali menjadi sorotan masyarakat Yogyakarta.


Advertisement

Meski kegiatan ini dinilai positif karena mendorong gaya hidup sehat dan mempererat komunitas pesepeda, banyak masyarakat mengaku terganggu dengan dampak yang ditimbulkan, terutama kemacetan panjang di beberapa titik kota.

Sejumlah pengguna jalan mengeluhkan bahwa rombongan pesepeda sering memenuhi seluruh lajur sehingga kendaraan lain sulit melintas.

Kondisi ini membuat arus lalu lintas tersendat, bahkan ada yang mengaku terlambat menuju tempat tujuan karena terjebak di tengah kerumunan pesepeda.

Advertisement

Keluhan masyarakat terlihat ramai di media sosial.

Salah satu pengguna akun @istianawisata menyampaikan bahwa kemacetan yang ditimbulkan membuat sejumlah orang sampai ketinggalan kereta.

“Korbane sek do ketinggalan kereta mergo keno macet. Galeria neng stasiun tugu 1,5 jam. Edan,” tulisnya.

Advertisement

Akun lain, @pt_elispa_kreasi, menceritakan pengalamannya saat melintas di fly over Lempuyangan.

Ia mengaku hampir terserempet karena rombongan pesepeda yang bergerak sembarangan.

“Macett nya minta ampun, apalagi yang naik sepeda tuh pada sembarangan semua. Minimal utamakan keselamatan lahhh, kalau ketabrak yang disalahkan ya kendaraan yang paling besar, padahal yang salah ya rombongan sepeda nya itu,” ungkapnya.

Meski banyak kritik, ada pula peserta JLFR yang memberikan pandangan lebih seimbang.

Pengguna akun @hanifhrjs.aa_ mengaku ia turut mengikuti kegiatan tersebut, namun selalu berusaha mematuhi aturan dan menghormati pengguna jalan lain.

“Aku juga JLFR, tapi aku berusaha selalu berbagi jalan sama pengguna lain, engga urakan. Yuk dimulai dari diri sendiri buat tertib berlalu lintas,” tulisnya.

Masyarakat berharap kegiatan ini tetap berjalan namun lebih terkoordinasi, mulai dari pengaturan rute, pendampingan petugas, hingga penegakan tata tertib bagi seluruh peserta.

Dengan manajemen yang lebih baik, kegiatan sepeda malam di Jogja bisa tetap menjadi ruang rekreasi sehat tanpa mengganggu aktivitas masyarakat lainnya. (Silvia Oktaviani)



Advertisement
Editor : Meitika Candra Lantiva
Sumber : IG/@_umarwnie
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sopir Harus Rela Macet Dua Jam di Wilayah Gombong Demi Jalan Mulus

Sopir Harus Rela Macet Dua Jam di Wilayah Gombong Demi Jalan Mulus

Antrean kendaraan terjadi di Jalan Yos Sudarso Gombong. Kemacetan parah tak dapat dihindarkan akibat proyek pembangunan jalan. (M Hafied/Radar Jogja)

Gegara Macet Panjang di Jalur Wisata Gunungkidul, Sopir Bus Pakai Jalur Nonbus karena Dikejar Waktu

Gegara Macet Panjang di Jalur Wisata Gunungkidul, Sopir Bus Pakai Jalur Nonbus karena Dikejar Waktu

Gegara Macet Panjang di Jalur Wisata Gunungkidul, Sopir Bus Pakai Jalur Nonbus karena Dikejar Waktu

Pesan Herry Zudianto Terhadap Pembatasan Pesepeda JLFR: Dirangkul, Beri Sentuhan Seni Budaya, Pasti Jadi Daya Tarik Wisata Jogja

Pesan Herry Zudianto Terhadap Pembatasan Pesepeda JLFR: Dirangkul, Beri Sentuhan Seni Budaya, Pasti Jadi Daya Tarik Wisata Jogja

Polemik pembatasan gerakan Jogja Last Friday Ride (JLFR) untuk masuk ke kawasan Malioboro mendapat komentar dari Herry Zudianto. Mantan Wali Kota Jogja periode 2001-2006 dan 2006-2011, sarankan JLFR dirangkul.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer