Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramai Ajakan Naik Gunung Merapi, BBPTKG Tegaskan Tingginya Potensi Erupsi Eksplosif Mendadak

D
Penulis: Delima Purnamasari❯
STATUS SIAGA: Luncuran awan panas Gunung Merapi Selasa (9/6). (Dokumentasi BPPTKG)
STATUS SIAGA: Luncuran awan panas Gunung Merapi Selasa (9/6). (Dokumentasi BPPTKG)

Advertisement

SLEMAN - Ramai dibahas di media sosial soal pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi oleh sejumlah kelompok masyarakat. Bahkan ada sejumlah akun telah mengunggah konten pendakian yang dilakukan baru-baru ini.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa situasi Gunung Merapi masih belum aman hingga kini. 

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menegaskan, aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan. Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius tiga kilometer dari puncak. Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian.

Advertisement

 Sementara jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo meliputi pintu gerbang yang hanya berjarak 2,3 kilometer; Pos I berjarak 1,64 kilometer; Pos II berjarak 1,25 kilometer; dan Pasar Bubrah hanya berjarak 0,7 kilometer.

"Dengan kondisi ini sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," tegasnya dikonfirmasi, Rabu (1/7). 

Advertisement

Menurutnya, masyarakat dan para pendaki juga perlu memahami dinamika aktivitas gunung saat ini. Merapi memang sedang berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan. Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi. 

"Bahaya ini dapat terpicu apabila jalan keluar magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba," ujarnya. 

Sumbatan itu dia sebut akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang sangat kuat di dalam kawah. Pada akhirnya dapat melepaskan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak.

Agus menyebut, kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi itu sendiri. Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda. Pada faktanya tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pasca-erupsi 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik.

"Selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," tambahnya. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Magma Terus Suplai Picu Guguran Lava ke Krasak

Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Magma Terus Suplai Picu Guguran Lava ke Krasak

Gunung Merapi berstatus Siaga (Level III) pada 3 November 2026. Terjadi 6 kali guguran lava pijar sejauh 1,5 km ke barat daya. Warga DIY dan Jateng diimbau jauhi zona bahaya dan waspada awan panas serta banjir lahar.

Potensi Bahaya Merapi Hari Ini, Sungai Boyong hingga Sungai Gendol Waspada Guguran Lava

Potensi Bahaya Merapi Hari Ini, Sungai Boyong hingga Sungai Gendol Waspada Guguran Lava

Gunung Merapi berstatus Siaga (Level III) setelah meluncurkan lava sejauh 1,5 km ke Kali Sat. BPPTKG imbau warga waspada awan panas guguran dan bahaya lahar hujan.

Update Aktivitas Gunung Merapi Terkini, Lava Pijar Meluncur Sejauh 1.700 Meter ke Arah Kali Krasak

Update Aktivitas Gunung Merapi Terkini, Lava Pijar Meluncur Sejauh 1.700 Meter ke Arah Kali Krasak

Gunung Merapi kembali meluncurkan guguran lava pijar hingga 1.700 meter ke arah Kali Krasak. BPPTKG mempertahankan status Level III (Siaga) dan mengimbau masyarakat mengosongkan kawasan potensi bahaya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer