RADAR JOGJA - Seniman tari sekaligus koreografer, Rianto, berhasil memukau para pengunjung di panggung ARTJOG 2024. PRianto menampilkan pertunjukan bertajuk Sastra Jiwangga - Perjalanan Tubuh Jawa.
Perjalanan tubuh Jawa mengungkap kajian soal komplekitas tubuh manusia, mulai dari aspek religius, sosial, hingga tradisional. Baginya, tubuh tidak saja meliputi aspek fisik, namun juga berkaitan dengan gagasan tentang peleburan gender."Spirit karya ini adalah perjalanan ketubuhan, tubuh mengalami perjalanan spiritual. Tanpa ada batasan tertentu, maskulin dan feminin itu melebur jadi satu," katanya kepada Radar Jogja, Sabtu (24/8).
Secara spesifik, Rianto memang sudah belasan tahun mendalami kesenian tari. Khususnya Lengger. Sebuah kesenian yang lekat dengan daerah asalnya, Banyumas. Dia mulai belajar kesenian tari sejak berusia 15 tahun.Sebagai koreografer dan penari, dia mendedikasikan tubuh pada kesenian Lengger. "Saya akan terus mengembangkan Lengger di Banyumas sampai mendunia," sambung lelaki 42 tahun yang berdomisili di Jepang ini.
Di panggung ARTJOG, Rianto tampil dua kali, 24 dan 25 Agustus. Karya yang ditampilkannya bersifat kolaboratif, dalam prosesnya digagas bersama koleganya, yakni Cahwati, yang bertanggungjawab sebagai komposer. Pada karya ini dia sebagai komposer. Mereka sudah berkolaborasi sejak 2016. Keterlibatan di ARTJOG pertamanya di 2018.”Ini penampilan keempat saya di ARTJOG," lanjut Rianto.
Cahwati menyampaikan, hubungannya dalam konteks karya dengan Rianto sudah lebih dari teman. Dalam berproses ia punya chemistry. Bahasa tubuh dan energi yang sama dengan Rianto."Mungkin karena sudah kenal sejak lama juga, kami teman sekolah sekaligus teman satu kelas," lanjutnya.
Disebutnya, karya perjalanan tubuh Jawa sendiri sudah pernah ditampilkan dalam beberapa kesempatan sebelumnya. Bahkan sampai sekarang karya tersebut juga masih tersedia dalam arsip museum di Berlin, Jerman. Dia terlibat di karya ini dari proses awal. “Jadi memang ini karya kolaboratif," ujarnya.
Rianto maupun Cahwati berharap, para penonton bisa memaknai maksud yang disampaikan pada karya tersebut. Rianto berkeinginan, ketika penonton pulang, harapannya mereka bisa memaknai dan membebaskan tubuhnya dari permasalahan gender. Yakni bisa memaknai peleburan tubuh dengan semesta."Karya saya selalu berada pada satu jalur, tidak ada embel-embel gender di dalamnya. Lalu, dalam karya juga ada eling, atau mengingatkan kembali," tandas Rianto.
Salah seorang penonton, Resti Indriana mengaku terpukau dengan penampilan dari Rianto. Diakuinya, ia sudah mengetahui kiprah dan karya Rianto, namun belum pernah kesampaian untuk menonton secara langsung."Tahu pertama kali itu 2021, saat saya menonton film Kucumbu Tubuh Indahku," bebernya.(iza/din)
Editor : Satria Pradika