Apabila melihat kilas balik, Indonesia pernah beberapa kali mengalami gempa dengan kekuatan besar, dan salah satunya Gempa Jogja pada tahun 2006.
Bencana Gempa Jogja pun ramai diperbincangkan pada tahun itu, karena gempa ini menyebabkan ribuan warga Jogja meninggal dunia dan dampak dari gempa inipun cukup parah dimana banyak bangunan rusak bahkan roboh di Jogja.
Kemudian dari peristiwa ini dibangunlah monumen untuk mengenang 10 tahun musibah ini terjadi pada saat monumen ini dibangun.
Monumen Gempa Potrobayan, menumen ini berdiri kokoh sebagai saksi bisu atas kekuatan alam yang dahsyat dan semangat pantang menyerah masyarakat Yogyakarta.
Terletak di Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, monumen ini menjadi tempat ziarah sekaligus peringatan akan gempa bumi dahsyat yang mengguncang Yogyakarta pada tahun 2006.
Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter yang mengguncang Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat.
Ribuan nyawa melayang, bangunan roboh, dan infrastruktur rusak parah. Gempa ini menjadi salah satu bencana alam terbesar yang pernah melanda Indonesia.
Monumen ini didirikan sebagai bentuk penghormatan bagi para korban gempa dan sebagai pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Monumen ini juga menjadi simbol semangat kebangkitan masyarakat Yogyakarta yang berhasil bangkit dari keterpurukan.
Desain monumen ini sederhana namun sarat makna.
Terbuat dari batu andesit, monumen ini berbentuk prasasti yang bertuliskan pesan-pesan inspiratif dan sejarah singkat gempa bumi.
Lokasi pembangunan monumen ini juga memiliki makna tersendiri, yaitu berada di dekat pusat gempa yang merupakan pertemuan Sungai Opak dan Sungai Oyo.
Monumen Gempa Potrobayan tidak hanya menjadi tempat berziarah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan edukasi yang tinggi.
Pengunjung dapat belajar tentang sejarah gempa bumi Yogyakarta, dampak yang ditimbulkan, serta upaya-upaya mitigasi bencana yang telah dilakukan.
Monumen Gempa Potrobayan adalah tempat yang patut dikunjungi bagi siapa saja yang ingin mengenang sejarah dan belajar dari bencana.
Dengan mengunjungi tempat ini, kita dapat menghargai kehidupan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Baca Juga: Mengenal Komunitas Kesinian, Tidak Sekedar Berkarya Tapi Suarakan Kritik Sosial
Penulis: Demartha Salsa Anugrah