Gus Yahya sapaan KH Yahya Cholil Staquf menuturkan kebersamaan dalam keberagaman adalah isu penting dunia. Ini karena masih adanya konflik-konflik yang muncul atas dasar perbedaan. Baik atas perbedaan keyakinan maupun yang terkait dengan suku dan ras manusia.
“Pada R20 konferensi pemimpin agama yang kami gelar pada awal bulan November yang lalu di Bali dan Jogjakarta menyepakati untuk bersama-sama membangun gerakan global diantara agama-agama,” jelasnya ditemui usai menerima anugerah Doctor Honoris Causa di UIN Sunan Kalijaga, Senin (13/2).
Gus Yahya menuturkan saat ini ada gerakan yang cenderung masif. Menjadikan agama sebagai tameng perbedaan antar kelompok. Ujungnya adalah konflik identitas yang berlandaskan agama dan keyakinan.
Dia memandang sejatinya agama adalah solusi. Terutama atas masalah dan konflik yang muncul di masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi akar atas munculnya konflik keyakinan di dunia. Sehingga menjadi jebakan keadaan yang bermasalah.
“Agar kemudian agama bisa sungguh-sungguh dihadirkan sebagai bagian dari solusi masalah dan menjadi inspirasi serta tenaga pendorong untuk perdamaian harmoni dan masa depan peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia,” katanya.
Konflik agama dan kepercayaan ini sejatinya telah terangkum dalam Piagam PBB. Pada intinya adalah sebuah komitmen internasional dalam menghindari konflik antar agama. Berupa munculnya kesepakatan-kesepakatan yang disusun oleh tokoh-tokoh dunia.
Ide dan kesepakatan ini menurutnya perlu diterapkan dalam lingkungan pendidikan. Gus Yahya meyakini lingkup ini sangatlah tepat dalam meredam munculnya konflik. Tentunya dengan pendekatan dan pemahaman yang ideal tentang kemanusiaan.
“Lembaga pendidikan masih sering disusupi dan tidak tahu lewat cara apa, disusupi oleh pandangan-pandangan yang bermasalah. Sampai kemudian ada ya ada yang anti hormat bendera dan sebagainya,” ujarnya.
Dia mendorong agar gerakan mendidik generasi baru konsisten. Dalam artian melahirkan sosok yang memiliki wawasan dan mentalitas baru yang jauh dari dorongan untuk berkonflik. Terlebih dengan dalih perbedaan latar belakang identitas.
Upaya lain denganm terus bergerak bersama komunitas agama di seluruh dunia. Diawali dengan mengembangkan persekutuan global. Ini untuk membangun gerakan yang membebaskan agama dari jebakan keadaan.
“Menghadirkan agama itu secara nyata sebagai bagian dari solusi masalah dan mendorong dikembangkannya perdamaian dan harmoni untuk masa depan peradaban. Mudah-mudahan nanti bersama-sama dengan Vatikan dengan Muhammadiyah dan dengan komunitas-komunitas agama yang lain ini akan berkembang lebih baik kedepannya,” katanya.
Dewan Pakar Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah Sudibyo Markus menuturkan NU dan Muhammadiyah menentang kekerasan antar sesama umat manusia. Untuk kemudian bersama-sama merawat kerukunan manusia dalam berbagai aspek.
Disatu sisi dia tak menampik adanya konflik pada masa lalu. Terutama yang berakar pada perbedaan agama dan kepercayaan. Namun semua itu menurutnya bukan menjadi alasan perdamaian antar manusia tak bisa tercipta.
“Belakangan kita sadar konflik itu konflik politik dibuat penguasa waktu itu. Perang agama sangat kecil dan periveral. Kita sangat menghargai dan untuk mengakhiri konflik yang lalu sudah punya instrumen internasional antar agama,” ujarnya.
Beberapa kesepakatan yang muncul diantaranya Konseling Vatikan, surat 300 ulama kepada Paus dan Pemimpin Agama yang disebut sebagai Common World between us and you. Ketiga adalah Konferesi Internasional oleh PBB.
“Lalu Paus Fransiskus ambil insiaitif lagi karena gregetan sudah ada instrumen tapi tidak jalan. Memang masa lalu disebabkan luka trauma, membekas dan tidak mudah dihilangkan. Untuk memulai ini tidak mudah tapi bukan berarti tidak ada jalan,” katanya. (dwi) Editor : Editor News