Sekjen Forum Pemuda NTT Talla Alor memastikan pihaknya akan terbuka dan kooperatif. Pihaknya juga tidak akan melindungi oknum pemuda yang terlibat di kedua kericuhan tersebut. Terbukti dengan penyerahan tersangka AL alias L kepada pihak penyidik Ditreskrimum Polda DIJ, Kamis pagi (7/7).
"Kami serahkan saudara Luis (AL alias L) dan Bosco. Kami sudah sepakati ini adalah masalah kedua belah pihak antara kami dengan teman Maluku. Kami datang untuk menenangkan kedua belah pihak," jelasnya ditemui di Mapolda DIJ, Kamis (7/7).
Talla Alor menuturkan penyerahan diri sebagai bukti kooperatif. Terutama atas proses hukum yang berlaku di Polda DIJ. Guna mempertanggungjawabkan kericuhan yang terjadi di Perumahan Jambusari, Condongcatur, Depok, Sleman.
Dia memastikan pihaknya akan patuh dan taat terhadap hukum yang berlaku. Menjalani seluruh proses pemeriksaan mulai dari penyelidikan hingga penyidikan. Terutama untuk AL alias L yang ditetapkan sebagai tersangka.
"Pagi tadi kami datang dengan menyerahkan diri ke Polda. Tetap berjalan diproses hukum seadil-adilnya. Lalu menyelesaikan secara kekeluargaan dan adat untuk korban-korban atas kericuhan ini," katanya.
Dalam kesempatan ini Talla Alor mewakili warga NTT yang ada di Jogjakarta memohon maaf. Terutama atas kericuhan yang membuat citra Jogjakarta tercoreng. Dia berjanji kejadian ini tak akan terulang kedepannya.
Dia juga meminta agar warga NTT yang ada di Jogjakarta mulai beraktivitas secara normal. Tidak melakukan tindakan-tindakan yang berujung pada konflik. Selanjutnya bersama - sama menjaga kondusifitas Jogjakarta.
"Pertama kami selaku sesepuh dari NTT tergabung dari Forum Kebudayaan NTT memohon maaf kepada masyarakat Indonesia dan DIJ yang beberapa hari kemarin terganggu. Kami usahakan tidak terjadi gesekan lagi. Kami mohon maaf sebesar -besarnya terkhususnya ke warga Jogjakarta," ujarnya.
Ketua Harian DPP Angkatan Muda Kei (AMKEI) Rais Kei juga mendatangi Mapolda DIJ. Tak sendiri, dia juga membawa dua pemuda yang diduga terlibat dalam kericuhan di Glow Karaoke. Keduanya berinisial D, 28 dan J, 29.
Rais Kei menuturkan penyerahan diri merupakan inisiatif Keluarga Besar Maluku. Dia memastikan tak ada pemaksaan atas penyerahan diri ini. Justru sebagai komitmen bersama agar perselisihan antar kelompok segera berakhir.
"Kami sampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dari keluarga besar Maluku bahwa kami hari ini mengantar pihak pelaku dari kami dan kami hari ini lakukan perdamaian dengan keluarga besar NTT dan Papua. Pelaku diserahkan 2 orang," katanya.
Rais Kei meminta semua pihak bisa menahan diri. Tidak terpancing emosi sehingga menimbulkan kericuhan. Alhasil dapat merugikan semua pihak baik yang bertikai maupun masyarakat di sekitarnya.
"Harapan kedepannya Jogja ini damai dan kami harapkan tidak boleh ada persoalan-persoalan dan kami dari orang Maluku maupun Indonesia timur menjaga Jogja damai. Dari saya memberikan pandangan solusi terbaik saling menjaga, jaga Jogjakarta tidak ada konflik kedepannya," tegasnya.
Senioritas Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua Marinus Mofu menuturkan sejatinya pihaknya tidak terlibat dalam konflik. Hanya saja salah seorang mahasiswa Papua menjadi korban penganiayaan dengan senjata tajam. Sehingga mengalami luka tangan kanan putus dan sabetan di kaki.
Inilah yang menjadi akar kericuhan di Ruko Babarsari. Berawal saat para pemuda Papua mendatangi Polda DIJ, Senin (4/7). Tujuannya untuk meminta kejelasan terkait penyelidikan kasus penganiayaan di Perumahan Jambusari.
"Kegiatan di Babarsari kami mohon maaf kepada Jogjakarta atas hal-hal yang kami rasakan emosional dan bentuk keraguan kepada Polda DIJ. Kami mendorong juga agar penyelidikan kasus kalau bisa pelaku dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku," pintanya. (Dwi) Editor : Editor News