Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Calonkan Prabasuyasa, Cadangkan Buminata, dan Tolak Mangkunegara

Satria Pradika • Senin, 12 Juni 2023 | 20:48 WIB

Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo
Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo
RADAR JOGJA - Susuhunan Amangkurat IV berkuasa kurang dari 10 tahun. Raja yang terkenal dengan sebutan Sunan Mangkurat Jawi itu bertakhta sejak 1719. Dia menggantikan ayahandanya Susuhunan Paku Buwono I. Penguasa keempat Kartasura itu wafat pada 1726.

Mangkurat Jawi meninggal karena menderita penyakit misterius. Ada laporan diracun. Sunan mengalami sakit perut akut. Raja curiga dirinya diracun atau ada kekuatan supranatural yang menyerangnya. Pelaku yang dicurigai mengarah pada sosok Patih Danureja. Pejabat tinggi Kartasura yang memiliki nama asli Cakrajaya.

Selain itu, kecurigaan lainnya mengarah pada konspirasi sejumlah bupati pesisir. Antara lain melibatkan Bupati Pekalongan Jayaningrat, Bupati Batang Puspanegara, Bupati Jepara Citrasoma, dan Bupati Kudus Arya Sentika. Istana juga mencurigai Bupati Madura Cakraningrat. Lima bupati itu ditengarai bersekongkol.

Mereka kemudian diminta bersumpah. Menanggapi permintaan itu, para bupati itu membalas dengan mengirimkan surat. Mereka kompak menyatakan tidak tahu menahu dengan penyakit yang diderita Amangkurat IV. Kelima bupati itu berani bersumpah. Tidak pernah  meminta bantuan dukun untuk menyantet raja Mataram.

Menjelang ajal datang, Mangkurat Jawi memanggil Danureja. Sang patih diminta menyurati Kompeni. Sunan berwasiat agar Pangeran Mangkunegara (Kartasura), putra sulungnya, ditunjuk sebagai calon pengganti. Bila Mangkunegara berhalangan, calon berikutnya adalah Pangeran Prabasuyasa yang telah diangkat menjadi putra mahkota. Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.

Namun ada versi lain menegaskan, Amangkurat IV telah menetapkan Prabasuyasa. Putra mahkota itu menjadi calon yang sejak awal di-endorse. Maklum Prabasuyasa adalah putra raja yang lahir dari permaisuri, Kanjeng Ratu Amangkurat.

Prabasuyasa mendapatkan dukungan penuh. Calon cadangannya ditunjuk Pangeran Buminata. Berikutnya Pangeran Loring Pasar. Nama Pangeran Mangkunegara tak pernah masuk daftar penerus takhta. Itu karena hubungan Mangkunegara dengan ayah kandungnya sudah lama tak pernah akur. Itu karena ayah Raden Mas (RM) Said atau Pangeran Sambernyawa itu berada di kubu oposisi.

Mangkunegara lebih dekat dengan paman sekaligus ayah angkatnya, Pangeran Purbaya. Bahkan saat Purbaya bersama saudaranya, Pangeran Balitar, menggoyang kekuasaan Amangkurat IV, Mangkunegara tidak mendukung ayah kandungnya. Dia lebih pro ke Purbaya. Kubu oposisi Purbaya dan Balitar ini membangun kekuatan di Kerta, Pleret, Bantul. Bekas ibu kota negara (IKN) Mataram zaman Susuhunan Agung Hanyakrakusuma.

 Pilihan Mangkunegara berada di barisan oposisi menjadi penilaian tersendiri Sunan Mangkurat Jawi terhadap anak sulungnya tersebut. Raja menolak nama Mangkunegara. Namanya tidak direkomendasi. Bahkan diganjal agar tidak muncul. Sejak awal raja sengaja cawe-cawe terhadap calon penggantinya. Hanya ada dua orang yang didukung. Pertama, calon utama Pangeran Prabasuyasa. Kedua, sebagai cadangan Pangeran Buminata.

 Setelah Amangkurat IV wafat, peran sentral dimainkan permaisuri Kanjeng Ratu Amangkurat. Ibu Suri ini segera mengatur strategi. Dia mengawal jalannya suksesi. Kanjeng Ratu Ageng ini, demikian sapaan akrabnya, memerintahkan Patih Danureja sebagai sekretaris negara memanggil pasukan VOC  untuk mengamankan Istana Kartasura.

Saat itu juga semua keluarga kerajaan dilarang meninggalkan istana. Kanjeng Ratu Amangkurat mewanti-wanti agar setiap Aparatur Sipil Mataram (ASM) berikut para pejabatnya tegak lurus dengan instruksi istana. Tidak boleh ada yang mbalela alias membangkang. Sebagai birokrat kerajaan, mereka adalah petugas negara. Harus loyal dengan perintah atasan.

Pengamanan juga dilakukan terhadap Pangeran Mangkunegara yang mendapatkan pengawalan khusus di bawah todongan senjata pasukan VOC. Mangkunegara tidak bisa bergerak. Komunikasi dengan pihak luar dibatasi. Padahal Mangkunegara punya pendukung  cukup besar.

Setelah semua dinyatakan aman dan terkendali, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom ditetapkan sebagai pengganti. Upacara jumenengan (penobatan) diselenggarakan pada Minggu, 2 Juni 1726. Bertepatan dengan rakyat Mataram merayakan Idul Fitri. Prabasuyasa resmi naik takhta. Raja baru ini bergelar Susuhunan Paku Buwono Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ingkang Jumeneng Kaping Kalih ing Negari Mataram.

 Selanjutnya dikenal dengan sebutan Sunan Paku Buwono II. Gelar ini sama yang dipakai kakeknya, Paku Buwono I. Bukan mengikuti  sang ayah Amangkurat IV. Gelar Paku Buwono dilanjutkan sang cucu dan para pewaris takhta Mataram berikutnya. (laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Susuhunan Amangkurat IV #Kusno S. Utomo #opini #pesanggaran #Kartasura #mataram #VOC