Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Muhammad Irvan Ardianto; Lulus Untidar Magelang tanpa Skripsi dengan IPK 3,98, Selepas SMK Kerja Dulu Setahun untuk Menabung Kulia

Naila Nihayah • Minggu, 28 Juni 2026 | 18:13 WIB
BERPRESTASI: Irvan Ardianto diapit kedua orangtuanya usai menjalani prosesi wisuda ke-74 di GKU dr HR Suparsono, Sabtu (27/6). NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
BERPRESTASI: Irvan Ardianto diapit kedua orangtuanya usai menjalani prosesi wisuda ke-74 di GKU dr HR Suparsono, Sabtu (27/6). NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA

 

MAGELANG - Suasana khidmat menyelimuti GKU dr HR Suparsono Universitas Tidar (Untidar) pada gelaran wisuda ke-74, Sabtu (17/6).

Di antara 300 lulusan, ada satu nama yang menonjol. Ialah Muhammad Irvan Ardianto.

Lulusan Program Studi Pendidikan Matematika ini dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.

Capaian akademik Irvan hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang yang ia tempuh. Irvan berasal dari keluarga sederhana.

Baca Juga: SPMB 2026 Kota Jogja Sisakan Ratusan Kursi Lowong pada Jenjang SD, Pemkot Belum Akan Lakukan Regrouping

Ayahnya, Sarwanto, bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara sang ibu, Gunarsih, menekuni katering. Dengan keterbatasan ekonomi, Irvan tidak berkecil hati.

Ia masih mengingat masa ketika kebutuhan sehari-hari pun sulit dipenuhi. Berangkat ke sekolah dengan sepatu bolong dan seragam lusuh menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun kondisi itu tidak mematahkan semangatnya.

Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan mulai tumbuh sejak ia duduk di bangku SMPN 8 Magelang.

Dua guru, Warsinah dan Theresia, menjadi sosok yang berperan besar membentuk cara pandangnya terhadap dunia pendidikan.

Ia yang sempat kesulitan memahami matematika di kelas VII perlahan menunjukkan perkembangan signifikan.

 Dalam waktu sekitar satu tahun, ia bahkan mampu mengikuti Olimpiade Matematika tingkat nasional saat duduk di kelas VIII.

"Pengalaman itu jadi titik balik yang membuat saya suka pada matematika dan punya keinginan untuk menjadi pendidik," bebernya usai prosesi wisuda.

Setelah lulus dari SMKN 1 Magelang jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, Irvan sempat kebingungan karena keterbatasan biaya.

Kondisi itu praktis membuatnya harus menunda kuliah.

Baca Juga: Baru Pulih, Tapi Cedera Lagi, Winger Spanyol Nico Williams: Salah Satu Hari Terburuk

Ia mengambil jeda selama satu tahun untuk bekerja. Berbagai pekerjaan dilakoninya.

Mulai dari membuka jasa cetak foto melalui media sosial (medsos), bekerja sebagai marketing, hingga berjualan makanan ringan.

Dari kerja keras itu, ia berhasil mengumpulkan tabungan sekitar Rp 3 juta dan mendaftar kuliah di Untidar lewat jalur SNBT. Namun jumlah itu belum cukup untuk menjamin kelanjutan pendidikan.

Semester 1 dia harus menguras tabungannya demi membayar uang kuliah tunggal (UKT).

Kesempatan akhirnya datang melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Beasiswa itu menjadi titik balik yang membuka jalan bagi Irvan untuk melanjutkan studi tanpa membebani orang tua.

Selama kuliah, Irvan tidak hanya fokus pada akademik. Ia juga aktif mengajar di Bina Taruna Wiyata sejak 2024 hingga 2026.

Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk mengasah kemampuan mengajar sekaligus memahami karakter peserta didik secara langsung.

Ia juga kerap menulis berbagai jurnal ilmiah. Komitmennya terhadap dunia akademik juga terlihat dari pilihan tugas akhir.

Baca Juga: Ubur-Ubur Portugis Mulai Terlihat di Pantai Glagah, Wisatawan Diminta Berhati-hati

Ia tidak mengambil jalur skripsi konvensional, melainkan memilih publikasi ilmiah.

Artikel berjudul How Does Computational Thinking Affect Mathematical Complex Problem-solving? berhasil menembus jurnal terindeks Scopus.

Penelitian itu, kata dia, dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap tingginya angka pengangguran lulusan SMK.

ia menilai, kondisi tersebut masih lemah dalam kemampuan menyelesaikan masalah kompleks.

Ia meyakini, setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing. Karena itu, ia memilih fokus pada proses, bukan sekadar hasil.

 Ke depan, ia bertekad melanjutkan kiprahnya di dunia pendidikan sebagai pengajar, sekaligus terus mengembangkan diri.

Sang ayah, Sarwanto mengaku bangga dengan Irvan. Ia tak menyangka jika sang anak bisa mengenyam pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi.

Namun, dia optimistis, sang anak bisa mewujudkan cita-citanya sebagai pendidik dengan bekal yang diperoleh. "Senang, bangga, sampai tidak bisa berkata-kata," ucapnya haru.

Baca Juga: Minggu Pagi, Mentan Amran Kumpulkan Rektor Perguruan Tinggi Lingkup Indonesia Timur, Perkuat Inovasi Pertanian

Rektor Untidar Prof Sugiyarto mengingatkan, capaian akademik bukanlah tujuan akhir. Menurutnya, IPK dan masa studi hanyalah trailer.

Sebab film sesungguhnya adalah bagaimana ilmu itu memberi dampak nyata di masyarakat.

"Lulusan Untidar diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas serta mampu menjaga nilai-nilai budaya," tegasnya. (laz)

Editor : Herpri Kartun
#ukt #Untidar #Kartu Indonesia Pintar Kuliah