Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Geopark Kebumen, Bentang Alam dengan Beragam Potensi

Muhammad Hafied • Senin, 25 September 2023 | 12:25 WIB
Peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Chusni Ansori menunjukkan batuan purba yang ada di Desa Karangsambung, Kebumen.
Peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Chusni Ansori menunjukkan batuan purba yang ada di Desa Karangsambung, Kebumen.

RADAR JOGJA - Selangkah lagi Geopark Kebumen beralih status menjadi UNESCO Global Geopark (UGG). Pemkab Kebumen terus melakukan berbagai persiapan dan pembenahan demi status pengakuan dunia.

Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menyampaikan, konsep pengembangan Geopark Kebumen tidak hanya menawarkan ilmu kebumian atau bebatuan. Tapi juga mencakup unsur lain, yakni unsur kebudayaan, pendidikan dan pariwisata yang saling berkaitan. "Jadi geopark itu mesinnya, tapi gerbongnya harus macam-macam," jelasnya (17/9).

Arif menyebut, Geopark Kebumen memiliki kekayaan bentang alam maupun potensi lain yang terus dikembangkan agar menjadi daya ungkit perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, butuh kolaborasi lintas sektoral agar status geopark tersebut memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

Dia tak memungkiri, hingga saat ini masih banyak pekerjaan rumah yang harus terselesaikan. Seiring penyematan status Geopark Kebumen menuju pengakuan dunia. "Kebumen harus punya maskot agar orang tertarik datang ke sini. Seperti halnya orang ke Jakarta pasti akan tertuju ke Monas atau Ancol. Nah, di Kebumen kita belum punya mascot. Sebagai pintu gerbang geopark ini sedang kita garap," tambahnya.

Geopark Kebumen memiliki luas daratan 1.138 km persegi dan lautan 21,98 km persegi. Luas kawasan ini membentang di 374 desa yang tersebar di 22 kecamatan. Di dalam geopark tersebut terdapat 42 geosite dan 7 biosite. Masing-masing memiliki ciri khas dan keunggulan.

Kawasan Geopark Kebumen awalnya hanya 0,5 dari luas sekarang. Kemudian pemkab menambah luasan kawasan karena terdapat kawasan lindung geologi di bagian utara atau Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung (KCAG). Sisi bagian selatan ada Kawasan Bentang Alam Karst Gombong Selatan (KBAK).

Peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Chusni Ansori menjelaskan, kawasan Geopark Kebumen jika dilihat dari sisi ilmu geologi terbilang unik. Bukti ilmiah ini dapat dilihat dari kekayaan jenis batuan. Beragam batuan di kawasan Geopark Kebumen terbentuk dari proses pengangkatan, vulkanisme serta pembentukan morfologi karst. "Terjadi sekitar 119 juta tahun silam. Proses itu menghasilkan bentang alam dan batuan menarik," terangnya.

Chusni menjelaskan, Geopark Kebumen jika dilihat dari berbagai aspek memiliki kompleksitas. Keragaman dan kelengkapan unsur geologi tidak semua dimiliki geopark lain, seperti di GGU Ciletuh-Pelabuhan Ratu di Sukabumi. Atau pun Geopark Gunung Sewu di Gunungkidul.

Dia menyebut, Geopark Kebumen memiliki Pemandian Air Panas (PAP) Krakal. Destinasi wisata ini bukan berasal dari proses vulkanik seperti air panas di Rinjani, Batur, dan Ijen. "Kebumen dari tahun 1960-an dipakai untuk pendidikan geologi lapangan. Ya karena bahan komplet. Ada nilai edukasi dan wisata," jelasnya.

Kemudian, situs di kawasan Geopark Kebumen yang menarik adalah dataran Karangbolong di Kecamatan Buayan. Disebut menarik karena Karangbolong merupakan daerah dataran tinggi, sementara bentang ke sisi timur hingga Jogja dataran rendahan. Morfologi ini terbentuk akibat patahan geser Kebumen-Muria di sisi timur serta patahan Cilacap-Pemanukan di sisi Barat. "Situs Gunung Api Purba Nglanggeran seumur dengan batuan vulkanik di Karangbolong," ungkapnya. (fid/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#UNESCO #Arif Sugiyanto #Geopark Kebumen