BANTUL - Kesaksian penyintas dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oknum dosen Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus bermunculan. Setelah pengakuan sejumlah korban ramai di media sosial, seorang penyintas lain yang meminta identitasnya disamarkan sebagai Mawar akhirnya turut buka suara.
Kepada Radar Jogja, Mawar mengaku mengalami dugaan pelecehan sejak sekitar 2017 hingga 2020. Saat itu, oknum tersebut masih berstatus asisten dosen sebelum kemudian diangkat menjadi dosen di Prodi Profesi Apoteker UMY.
Menurut Mawar, perkenalannya dengan oknum tersebut bermula ketika dirinya masih menempuh pendidikan S1 Farmasi dan memasuki tingkat dua menuju tingkat tiga. Saat itu, oknum tersebut kerap menjadi pembimbing kegiatan skill lab dan praktikum.
"Awalnya saya anggap beliau hanya ramah. Kalau berpapasan selalu menyapa dan tersenyum. Komunikasi lewat Whatsapp juga sebatas urusan akademik, jadi saya tidak merasa ada yang aneh," katanya pada Radar Jogja, Rabu (15/7).
Baca Juga: Bek Spanyol Pau Cubarsi: Kami Membungkam Banyak Orang dan Pergi ke Final
Namun, seiring semakin seringnya mereka bertemu dalam kegiatan akademik, Mawar mengaku mulai merasakan perlakuan yang menurutnya tidak lagi wajar. Ia menyebut oknum tersebut mulai melakukan kontak fisik dengan dalih membantu saat praktikum maupun bimbingan.
"Lambat laun saya merasa risih. Saat praktikum beliau beberapa kali pegang tangan saya dengan alasan membantu, duduk sangat dekat ketika membimbing, dan mulai sering menepuk pundak saya," ujarnya.
Saat itu, Mawar mengaku sempat mencoba untuk menjaga jarak. Namun, hal itu sulit dilakukan karena pembagian pembimbing praktikum telah ditentukan oleh pihak kampus.
Memasuki 2019, ketika melanjutkan pendidikan Profesi Apoteker di UMY, oknum dosen tersebut telah diangkat menjadi dosen. Menurut Mawar, sejak saat itu komunikasi di luar kepentingan akademik semakin intens.
Di luar konteks akademik, Mawar mengaku pernah didatangi tanpa pemberitahuan saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jogjakarta.
"Beliau tiba-tiba datang menjenguk saya di rumah sakit tanpa memberi kabar sebelumnya. Saya merasa tidak nyaman, tetapi saat itu saya dan ibu tetap menghormati beliau sebagai dosen," ujarnya.
Pengalaman lain terjadi ketika Mawar mengunggah aktivitas olahraga di media sosial. Ia mengaku oknum dosen tersebut kemudian datang ke lokasi dan beberapa kali menawarkan untuk mengantarnya pulang.
Dalam kejadian dan situasi yang lain, Mawar mengaku dihubungi saat ia sedang berada di kampung halamannya. Oknum dosen itu disebut mengajaknya bertemu di sebuah hotel dengan alasan meminta bantuan menyiapkan materi, guna kebutuhan promosi kampus di kota tersebut.
Menurut Mawar, pertemuan tersebut justru tidak membahas banyak hal terkait promosi sebagaimana yang disampaikan sebelumnya.
Baca Juga: Tak Berhenti di Job Fair, Disdagnaker Minta Laporan Rekrutmen dari 32 Perusahaan
"Saya milih bertemu di lobi dan datang bersama adik sepupu saya. Setelah bertemu, ternyata lebih banyak ngobrol dan foto. Saat foto beliau merangkul pundak saya. Saya merasa tidak nyaman, bahkan adik sepupu saya juga melihat itu sebagai sesuatu yang tidak pantas," tuturnya.
Usai pertemuan tersebut, Mawar mengaku mulai menerima pesan-pesan pribadi yang sangat tidak etis, dan menurutnya tidak lagi berkaitan dengan urusan akademik.
"Beliau pernah menghubungi saya dini hari dan mengatakan bermimpi tentang saya. Ada juga pesan yang menceritakan hal-hal yang bersifat seksual. Saya merasa sangat dilecehkan karena seorang pengajar menyampaikan hal seperti itu kepada mahasiswinya," katanya.
Menurut Mawar, salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia diminta mengikuti bimbingan sekitar pukul 17.00 di ruang dosen. Karena khawatir terjadi sesuatu, ia meminta seorang temannya menunggu di luar ruangan.
Kekhawatirannya, kata Mawar, terbukti. Ia mengaku hanya berdua dengan oknum dosen tersebut di ruang rapat.
"Saya hanya bisa gemetar. Saat itu beliau mulai menyentuh pundak, punggung, dan paha saya. Saya tidak bisa berteriak. Saya hanya sempat menghubungi teman saya yang sudah menunggu di luar agar masuk ke ruangan," ungkapnya.
Setelah kejadian-kejadian tersebut, Mawar mengaku mengalami trauma yang cukup memengaruhi kehidupan, baik di konteks akademik maupun kesehariannya.
"Saya jadi takut ikut praktikum atau mata kuliah yang beliau pegang. Setiap mau ke kampus rasanya takut bertemu beliau atau tiba-tiba dihubungi lagi. Saya juga sempat merasa rendah diri setelah semua yang terjadi," ujarnya.
Mawar mengatakan, bahwa dirinya sempat melaporkan pengalaman tersebut kepada salah seorang dosen karena ingin mendapatkan perlindungan sebagai mahasiswa. Namun, menurut pengakuannya, respons yang diterima justru membuatnya semakin terpukul sehingga memilih diam dan fokus menyelesaikan kuliah.
Belakangan ini, baru setelah banyak penyintas lain mulai berbicara di media sosial, Mawar memutuskan ikut menyampaikan pengalamannya.
"Kasus ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan saya yakin korbannya bukan hanya satu atau dua orang. Saya merasa perlu bersuara agar tidak ada lagi korban berikutnya. Saya juga ingin memberi keberanian kepada perempuan lain untuk berani membela dirinya sendiri," ucapnya.
Secara garis besar, ia berharap proses penanganan yang kini dilakukan kampus dapat berjalan secara transparan dan memberikan keadilan bagi seluruh korban.
"Saya harap semua proses berjalan baik. Jika terbukti bersalah, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, agar ada efek jera dan tidak ada lagi korban berikutnya," pungkasnya. (iza)
Editor : Bahana.