GUNUNGKIDUL – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul mengambil langkah proaktif dalam pengelolaan sampah yang timbul dari programMakan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala DLH Gunungkidul Harry Sukmono mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan skema khusus untuk mengelola sampah yang dihasilkan dari kegiatan ini. Sampah yang dihasilkan di Dapur Sehat akan dikelola oleh Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Tawarsari yang terletak di Kapanewon Wonosari.
“Kami telah melakukan pendampingan dengan pihak Dapur Sehar serta sekolah-sekolah dalam mengolah sampah yang timbul dari program MBG di Gunungkidu," ujar Hary saat dikonfirmasi, Selasa (18/2).
Baca Juga: Produksi Rata-Rata Ikan Konsumsi di Kabupaten Sleman Tiap Bulan Capai 4.600 Ton
Proses pengelolaan sampah akan dimulai dari pemilahan di tingkat dapur, di mana semua jenis sampah akan dipisahkan dan dimasukkan ke dalam kantung sampah yang sesuai. Setelah itu, sampah tersebut akan diangkut dan dikelola di TPS3R Tawarsari. Harry menjelaskan, residu dari sampah yang tidak terpakai akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari.
Pengambilan sampah dijadwalkan setiap hari, dan biaya pengangkutan akan dikenakan berdasarkan volume sampah yang dihasilkan.
"Karena pelaksanannya baru dimulai, kami masih melakukan pendataan untuk mengetahui seberapa banyak sampah yang dihasilkan,” tambahnya.
Harry menekankan, pengelolaan sampah ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat secara aktif. Pihaknya berencana untuk menggandeng kelompok peduli lingkungan dalam pengelolaan sampah ini.
“Kami ingin menjadikan masalah sampah sebagai tanggung jawab bersama, sesuai dengan amanat Perda Nomor 14 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.
Lebih jauh, keterlibatan sekolah juga menjadi fokus utama dalam menangani masalah sisa makanan dari program MBG. Harry menjelaskan bahwa sekolah-sekolah yang terlibat dalam program Adiwiyata akan diajak berkolaborasi. Sisa makanan yang tidak habis di sekolah dapat diolah menjadi pupuk kompos. Kami akan memberikan pendampingan untuk proses ini.
Meskipun telah menyiapkan skema yang matang, Harry mengakui terdapat kendala terkait terbatasnya jumlah TPS3R di wilayah Gunungkidul. Saat ini, baru ada dua lokasi dapur sehat yang beroperasi, yaitu di Wonosari dan Tepus, sementara pembangunan dapur sehat direncanakan sebanyak 40 unit di seluruh Kapanewon.
“Saat ini, hanya ada 21 TPS3R, dan kami khawatir ketika semua dapur sehat beroperasi, terutama yang jauh dari TPS3R,” tuturnya.
Untuk itu, pihaknya mempertimbangkan beberapa solusi. Salah satunya adalah menggaet bank sampah yang ada di masyarakat atau memberdayakan masyarakat setempat untuk terlibat dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga: Di Magelang Bertepatan dengan Retret Kepala Daerah, Panpel PSIM Jogja Masih Cari Tempat untuk Final
“Kami akan mencari cara terbaik agar semua sampah dapat dikelola dengan baik, sehingga dampak negatif terhadap lingkungan dapat diminimalkan,” kata Harry.
Pihaknya berharap pengelolaan sampah dari program MBG dapat berjalan efektif dan berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. (ndi)
Editor : Heru Pratomo