GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengklarifikasi mengenai dua pasien demam berdarah dengue (DBD) yang meninggal dunia akibat diduga terlambat mendapatkan penanganan.
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, dua pasien DBD meninggal dunia merupakan anak-anak yang telah merasakan gejala dengue shock syndrome (DSS).
"Dari laporan rumah sakit yang menangani, saat dilarikan ke rumah sakit, pasien sudah dalam keadaan kritis atau DSS," ujar Ismono kepada awak media, Rabu (27/3).
Ismono menegaskan, bahwa sarana kesehatan dan rumah sakit selalu siap akan kedaruratan yang dialami pasien.
"Gejalanya kan mirip dengan penyakit lain, sehingga masih banyak yang menganggap itu penyakit biasa (bukan DBD) ternyata sudah dalam fase DSS," jelasnya.
Namun begitu, pihaknya tetap akan melakukan evaluasi mengenai penanganan pasien DBD agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ismono menyebut, jumlah pasien DBD di Kabupaten Gunungkidul mencapai 311 orang tersebar di puskesmas-puskesmas dan rumah sakit.
Upaya pencegahan mewabahnya penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti itu, pihaknya akan melakukan program fogging fokus.
"Karena terbatas di penganggaran, fogging fokus akan dilakukan di 33 titik di Kabupaten Gunungkidul," ucapnya.
Ismono juga memastikan, pelayanan di rumah sakit selalu siap dan tidak memiliki kendala dalam penanganan pasien DBD.
Masyarakat juga diimbau untuk menggencarkan gerakan Pemberantasan Saran Nyamuk (PSN).
"Kepedulian terhadap lingkungan yang paling penting dalam upaya pencegahan DBD," tuturnya.
Menurutnya, penyakit DBD selalu melonjak naik tiap lima tahun sekali.
Lebih lanjut, pihaknya akan berkoordinasi dengan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai program Wolbachia untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes Aeghypti. (cr6)
Editor : Amin Surachmad