JOGJA - Agenda Jogja Business Matching (JBM) kembali digelar di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Sleman, Rabu (22/1/2026).
Perputaran uang dalam acara pertemuan pelaku usaha dengan pembeli itu ditargetkan dapat mencapai Rp 2 miliar.
"Event ini mampu menjadi jembatan seller dan buyer untuk dealing transaksi," ujar Project Director JBM 2026 Sri Astuti saat ditemui di lokasi acara.
Acara tersebut diikuti sekitar 94 pelaku usaha baik barang maupun jasa dari hotel, travel agent, desa wisata, pusat oleh-oleh, pengelola destinasi wisata, pelatihan sumber daya manusia (SDM) dan konsultan, serta event organizer.
Calon pembeli yang berpartisipasi pun mencapai 200 orang. "60 persen dari travel agent, dan 40 persen dari non travel," bebernya.
Para pelaku usaha berkesempatan bertemu dengan pembeli dalam konsep mixed. Potensi adanya kerja sama akan muncul dan memperluas relasi bisnis.
"Ada sesi business matching UMKM dengan konsep free dealing, ini menjadi pembuka kerja sama untuk di masa yang akan datang," jelasnya.
Walaupun pelaku usaha berasal dari berbagai daerah di Indonesia, namun pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di DIY juga turut dilibatkan.
Mereka diberi ruang pemasaran yang efektif dalam segmentasi setiap produk yang mereka jual.
"UMKM ini juga sudah dikurasi sebelumnya, minimal yang sesuai dengan profile dari seller dan buyer yang hadir,” tandasnya.
Setelah di Jogja, beberapa kota akan dituju untuk menggelar event tersebut. Sepanjang 2026, setidaknya ada 8 kota yang akan didatangi meliputi Bandung, Surabaya, Semarang, Bali, Makassar, Bangkok serta Jakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY Imam Pratanadi menambahkan, event tersebut sudah 12 kali diadakan di DIY.
Hal itu untuk memastikan peningkatan pariwisata di DIY bisa merambah pasar internasional.
"Jumlah peserta semakin meningkat, kadang ada 239 pembeli dan 94 untuk penjual," ujarnya.
Produk maupun jasa pariwisata dinilai terus mengalami perkembangan dan mendapat tuntutan dari konsumen.
Produk jasa berkualitas akan perlahan tercipta dengan ekosistem tersebut. "Penyedia jasa maupun produk akan belajar menyiapkan layanan terbaik untuk menawarkan kepada market internasional," tambahnya. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita