KULON PROGO - Berdaging tebal, kaya akan lendir, dan tubuh dipenuhi duri menjadi karakteristik lidah buaya atau aloevera. Tanaman yang kerap menjadi bahan alami penyubur rambut ini ternyata menyimpan potensi besar menjadi olahan siap santap. Potensi ini ditangkap oleh Oza Aloevera, UMKM asal Kalurahan Kedungsari, Pengasih, Kulon Progo. UMKM ini mampu mengolah tanaman yang dianggap sebagai penghias ruangan menjadi beragam produk olahan.
Pemilik Oza Aloevera Fungki Kusnaendy menjelaskan, kisah awal pertemuannya dengan lidah buaya sekitar tahun 2012. Saat itu, Fungki melihat pertanian lidah buaya di Kabupaten Temanggung. Ia mempertanyakan, alasan di balik keberadaan pertanian lidah buaya itu. Ternyata lidah buaya memiliki manfaat luar biasa, dan biasanya disetorkan sebagai bahan baku kosmetik. "Setelah itu saya pergi Pontianak, melihat sendiri beragam produk lidah buaya," ucap Fungki Jumat (5/6).
Fungki menjelaskan, lawatannya ke Pontianak membuka wawasan pemanfaatan lidah buaya. Bermodal niat dan nekat, Fungki memulai dari pertanian lidah buaya pada 2014. Memulai dari petani lidah buaya dilakukan demi memperoleh kualitas lidah buaya yang tinggi.
Di tahun itu, lidah buaya telah ditanam masyarakat. Namun, kualitasnya belum baik karena tekstur lunak dan mudah kempes. Padahal kualitas lidah buaya sangat memengaruhi hasil olahan. Akhirnya, ia menekuni profesi menjadi petani lidah buaya.
Baca Juga: Miliki LP2B, Pemkab Kulon Progo Berharap Ada Insentif dari Pemerintah Pusat
Selain menjadi petani, Fungki mulai membuat beragam produk. Salah satu yang dirintis adalah produk nata de alovera. Produk yang hampir sama dengan nata de coco ini memiliki keunikan. Selain karena teksturnya, juga karena memiliki beragam manfaat kesehatan. Di antaranya, mengatasi sembelit, dan asam lambung. Berkat produk itu, Oza Aloevera berhasil dikenal masyarakat luas. "Sekarang produknya berkembang, ada teh, dawet, cendol, hingga nastar," ucapnya.
Tak sampai situ, Fungki terus mengembangkan produknya hingga mencapai belasan jenis. Hal ini dilakukan, agar pembeli dapat memilih produk sesuai selera mereka. Selain pilihan beragam, harga produk tergolong murah. Sebab untuk produk minuman dibanderol Rp 3 ribu. Sedangkan produk kemasan dimulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu.
Produk olahan lidah buaya terus berkembang, hingga Oza Aloevera mulai dilirik pasar ekspor. Fungki sempat mengirimkan produknya ke Amerika Serikat untuk dijual di sana. Kini UMKM pengolah lidah buaya itu terus bertumbuh. Tiap bulannya dia mengolah 30 kilogram lidah buaya. Bahan bakunya diambil dari petani lokal yang menjadi mitra Oza Aloevera.
Menurutnya, keunggulan Oza Aloevera bukan hanya variasi produk. Dari segi pemasaran, produknya mampu dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, pihaknya menyiapkan konsultasi pada calon pembeli untuk menyesuaikan produk yang cocok. Beragam cara inilah, yang membuat Oza Aloevera bertahan hingga sekarang. (gas/pra)
Editor : Sevtia Eka Novarita