Analis pasar modal, Hendra Wardana, menilai pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (4/3) dipicu kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi bersamaan.
Menurtnya, tekanan terhadap IHSG bertambah seusai lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level investment grade, BBB.
“Perubahan outlook ini memang bukan penurunan rating, namun pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan,” ujar Hendra, dikutip dari Antara News, Rabu (4/3).
Di tengah ketegangan geopolitik global serta lonjakan harga energi, perubahan outlook tersebut mempercepat aksi jual (net sell), khususnya oleh investor asing yang sensitif terhadap risiko makro.
“Dengan demikian, koreksi IHSG bukan hanya soal perang atau harga minyak semata,” jelas Hendra.
Ia menjelaskan, terdapat faktor teknikal berupa aksi profit taking (ambil untung) setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan rupiah akibat capital outflow jangka pendek, serta kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi energi dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga.
Hendra sempat menejelaskan, bahwa secara teknikal aksi profit taking (ambil untung) setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan rupiah akibat capital outflow jangka pendek, dan kekhawatiran bahwa akan terjadinya inflasi energi dapat mempersempit ruang pelonggaran suku bunga.
"Kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, yang membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dan berlangsung cepat dalam waktu singkat," ujar Hendra.
Hingga akhir Maret 2026, arah IHSG diperkirakan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak global dan stabilitas nilai tukar rupiah. Selama harga minyak Brent bertahan di bawah 90 dolar AS per barel, tekanan dinilai masih sebatas volatilitas jangka pendek. Namun jika mendekati 100 dolar AS per barel dan terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, pasar berpotensi memasuki fase risk off
“Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting (IHSG),” tutur Hendra.
Apabila ketegangan mereda dan nilai rupiah kembali stabil, IHSG berpeluang rebound (berbalik menguat) bertahap ke kisaran 7.900-8.100 pada akhir Maret 2026.
“Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400. Fase ini lebih tepat disebut sebagai periode konsolidasi dengan volatilitas tinggi, bukan perubahan tren jangka panjang, selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga,” ujar Hendra.
Ia pun mengatakan, dalam situasi ini investor dituntut untuk tetap tenang dan selektif.
"Tidak perlu panik, tetapi juga tidak bijak bersikap terlalu agresif. Pendekatan bertahap, fokus pada emiten berfundamental kuat dan arus kas sehat, serta disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci," ujar Hendra.
Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB atau layak investasi (investment grade).
Revisi outlook ini dapat meningkatkan kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan pemerintah.
Meski outlook direvisi menjadi negatif, penegasan ini didukung rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif moderat, dan cadangan devisa yang memadai.
Berdasarkan data perdagangan sesi II pada Rabu (4/3) siang, IHSG tercatat turun ke 417,95 poin atau 5,26 persen ke posisi 7.521,81, sejalan dengan pelemahan bursa saham kawasan Asia.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.503.431 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 41,16 miliar lembar saham senilai Rp21,43 triliun. Sebanyak 38 saham naik 743 saham menurun, dan 35 tidak bergerak nilainya.
Aktivitas perdagangan mencapai 2.503.431 transaksi dengan volume 41,16 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp21,43 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 38 saham menguat, 743 saham menurun, dan 35 tidak bergerak nilainya.
Penulis: Lutfiyah Salsabil
Editor : Bahana.