Suhu Panas Merembet ke Dataran Tinggi, Pakar Pertanian UMY Ingatkan Tanaman Kopi di DIY Perlu Perlindungan Ekstra
Fahmi Fahriza• Sabtu, 18 April 2026 | 20:02 WIB
Ilustrasi suhu panas di bumi. PBB Sebut pada 2023 suhu di bumi mengalami peningkatan paling tinggi sejak 1985. Hal ini dikuatkan dengan sejumlah laporan rata-rata global.
JOGJA - Kenaikan suhu di atas normal yang melanda Indonesia selama periode pancaroba April 2026 mulai memunculkan kekhawatiran terhadap sektor pertanian, termasuk di DIJ. Sejumlah komoditas pangan strategis seperti padi dan jagung disebut berada pada kondisi paling rentan.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Oki Wijaya mengingatkan, bahwa suhu tinggi dapat mengganggu proses biologis tanaman, terutama saat memasuki fase pertumbuhan krusial.
Menurutnya, dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu, terutama pada fase reproduktif.
"Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, dan mempercepat stres tanaman, juga mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil," ujar Oki, Sabtu (18/4).
Di wilayah seperti DIJ yang tengah memasuki masa pancaroba dengan kecenderungan curah hujan menurun, kondisi ini dinilai berisiko lebih tinggi karena tanaman menghadapi tekanan ganda, yakni panas dan keterbatasan air.
Oki mengungkapkan, setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global berpotensi menurunkan hasil sejumlah komoditas utama. Padi diperkirakan turun 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen.
"Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat," tegasnya.
Menurutnya, padi, jagung, cabai, dan tomat menjadi komoditas yang paling sensitif terhadap suhu ekstrem. Pada tanaman padi, suhu tinggi saat fase pembungaan dan pengisian gabah dapat meningkatkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak terbentuk sempurna.
Sementara itu, jagung dinilai lebih rentan, terutama pada fase tasseling, silking, hingga awal pengisian biji. Pada komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat, suhu tinggi dapat mengganggu proses pembuahan dan menurunkan kualitas hasil.
Selain tanaman pangan dan hortikultura, komoditas perkebunan seperti kopi—terutama yang ditanam di dataran tinggi—juga perlu diwaspadai terhadap perubahan suhu yang ekstrem.
Oki menyebut, indikasi dampak sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan, meskipun belum selalu tercatat sebagai gagal panen secara resmi. Gejala awal yang muncul antara lain tanaman cepat layu pada siang hari, gangguan pembungaan, hingga penurunan kualitas hasil.
"Penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi sebelum tercatat secara resmi sebagai penurunan produksi wilayah. Untuk memastikan skala dampaknya, tetap perlu verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah," jelasnya.
Ia menambahkan, suhu tinggi akan menjadi lebih berbahaya ketika terjadi bersamaan dengan kekurangan air, kondisi yang umum terjadi saat pancaroba di DIJ.
"Masalah utamanya bukan hanya panas, tapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat," imbuhnya.
Sebagai langkah mitigasi, petani didorong untuk menyesuaikan waktu tanam, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta memberikan perlindungan ekstra pada fase berbunga. Penggunaan varietas yang lebih toleran terhadap suhu tinggi juga menjadi salah satu solusi yang disarankan.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat memperkuat dukungan melalui penyediaan informasi cuaca yang lebih operasional, akses terhadap benih tahan panas.
"Serta penguatan infrastruktur irigasi guna menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tekanan perubahan iklim," pesannya. (iza)