BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul kembali memperpanjang siaga bencana hingga 30 April. Hal ini karena Bumi Projotamansari masih rawan terhadap pohon tumbang.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol menyampaikan, perpanjangan siaga bencana hidrometeorologi berlandaskan data dari BMKG. Menurutnya, berdasarkan prediksi BMKG musim hujan masih tetap terjadi hingga April. Lantas pada Mei, baru memasuki musim kemarau.
“Jangan berpikiran jarang hujan tidak menimbulkan masalah,” tegasnya Minggu (9/3).
Sebab meskipun intensitas hujan mulai turun, namun angin kencang tetap ada. Sebab saat ini, sudah memasuki masa peralihan musim. Situasi tersebut menjadi sangat rawan menimbulkan pohon tumbang.
Tidak hanya itu, SK bupati Bantul soal siaga bencana tidak hanya fokus pada angin kencang. Namun juga siaga banjir dan tanah longsor. “Sekarang lebih dominan ancaman pohon tumbang karena hujan dengan angin kencang di desa sering terjadi,” tuturnya.
Terbaru, lanjutnya, ada lima titik pohon tumbang di Bantul yang terjadi Sabtu (8/3). Masing-masing dua titik pohon tumbang di Kapanewon Kasihan dan Dlingo, sedangkan satu titik lainnya di Sedayu.
Seluruh penyebab pohon tumbang ini karena hujan lebat yang disertai angin. “Empat dari lima kejadian menimpa atap rumah warga meskipun tidak parah,” ucap Antoni.
SK Bupati soal status siaga bencana, lanjutnya, juga menjadi penting untuk pemerintah kalurahan. Agar memudahkan penggunaan dana desa dalam penanganan warga yang terdampak bencana.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul Irawan Kurnianto menambahkan, selama 2025 ini ada 31 penanganan bantuan terhadap pohon tumbang.
Selain itu, saat ini juga rentan terhadap kehadiran hewan berbahaya seperti ular dan biawak. Menurutnya, kemunculan keduanya untuk mencari mangsa atau makan. “Sedangkan saat penghujan seperti sekarang mereka sering keluar karena sarangnya terendam air,” bebernya.
Dia mengimbau agar warga Bantul menjaga kebersihan lingkungan, jangan sampai ada sampah menumpuk karena berpotensi menimbulkan genangan atau luapan air. Pasalnya, kondisi itu dapat menyebabkan munculnya hewan reptil di sekitar rumah. Selama 2025 ini Bidang Damkarmat BPBD Bantul sudah melakukan penanganan 102 untuk evakuasi ular. “Untuk biawak 49 kali penanganan yang dilaporkan ke Pusdalops,” tandasnya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita