BANTUL - Sejumlah lahan pertanian di empat kapanewon Kabupaten Bantul diserang monyet ekor panjang.
Tanaman palawija seperti jagung, kacang, dan buah-buahan menjadi sasaran monyet ekor panjang sehingga banyak petani mengeluh.
Kapanewom Dlingo, Imogiri, Pundong, dan Piyungan yang terdampak paling parah.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul sudah tidak kurang-kurang menangani monyet ekor panjang agar tidak menyerang lahan pertanian lagi.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, masih kesulitan untuk menyelesaikannya padahal sudah berkoordinasi dengan berbagai sektor.
"Belum ada jalan ke luar, kami berdoa," katanya, Rabu (11/12/2024).
Menurutnya, berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan BKSDA tetap belum ada kesimpulan untuk penanganan yang praktis.
Fenomena ini menjadi tahunan karena kemarin musim kemarau panjang sehingga imbasnya serangan monyet ekor panjang.
Kondisi tersebut diperparah karena satu pejantan monyet ekor panjang bisa mengawini 70 ekor betina dalam satu hari.
Disaat yang bersamaan masa birahi monyet ekor panjang itu mencapai 11 hari.
"Kemarin ada solusi satu di antaranya pemandulan terhadap monyet itu tetapi kami perlu ada legitimasi kekuatan hukum untuk itu seperti apa agar tidak salah," sambungnya.
Joko mengungkapkan, kerugian serangan monyet panjang mencapao Rp 400 juta untuk satu kali musim tanam.
Kerugian sebesar itu baru ditaksir dari wilayah Mangunan saja.
Sedangkan, besaran hektare lahan yang terdampak dia tidak dapat memastikannya karena perhitungannya berdasarkan wilayah.
Karena bernaungnya monyet ekor panjang berada di beberapa wilayah saja seperti Goa Cermai, Mangunan ada lima titik, dan daerah Imogiri.
Penanganannya pun melibatkan Satpol PP agar dapat terselesaikan.
Kepala Satpol PP Bantul Jayi Bayu Broto mengungkapkan, sedang melihat kemungkinan melakukan pemandulan monyet ekor panjang.
Tetapi, hal tersebut masih dalam tahap koordinasi dengan LSM terkait dan BKSDA.
"Sudah mencemaskan masyarakat perlu dibantu," tegasnya. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva