BANTUL – Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul pada tahun anggaran 2024 menyiapkan program bantuan alat mesin pertanian (alsintan) untuk petani.
Pada tahun 2024, DKPP Bantul melakukan pengadaan lima unit traktor dengan anggaran mencapai Rp 186 juta.
Pengawas Alat Pertanian DKPP Bantul Sandhi Felani mengatakan, bantuan Alsintan berupa traktor tangan (hand tractor) untuk petani dalam upaya meningkatkan produksi kebutuhan pangan lokal.
Dengan adanya program bantuan mesin traktor diharapkan dapat membantu petani membuka lahan pertanian lebih cepat guna melakukan penanaman.
“Jenis traktor yang nanti kami berikan tetap berdasarkan dari proposal yang diajukan dari kelompok tani,” ujarnya, Kamis (25/4/2024).
Ia menjelaskan, pada tahun ini ada lima unit traktor tangan yang akan diberikan kepada kelompok tani.
Rinciannya, satu unit hand tractor rotary dengan anggaran dari APBN dan tiga unit hand traktor rotary dari APBD Bantul.
Anggaran empat unit traktor ini senilai Rp 158 juta. “Lalu hand tractor R2 satu unit dari APBD senilai Rp 28 juta. Total anggarannya sudah termasuk dengan pelatihan,” jelasnya.
Sebelumnya pada 2023, DKPP Bantul melakukan pengadaan 13 unit traktor, sementara pada 2022 ada 22 unit traktor yang diberikan kepada kelompok tani.
Sedangkan pada 2021 ada pengadaan sebanyak 13 unit traktor. “Anggarannya ada dari APBD Bantul, APBD DIY, dan APBN,” kata Sandhi.
Selain dari APBD dan APBN, sumber pengadaan traktor juga berasal dari dana alokasi khusus (DAK). Penggunaan dari DAK dikhususkan untuk yang sangat membutuhkan.
Namun, pada pengadaan traktor di tahun 2024 sudah tidak menggunakan DAK.
DKPP Bantul berharap agar pengadaan tahun 2024 ini berasal dari APBD dan APBN.
“Ada juga dari pokok pikiran dewan dan usulan di kalurahan. Nanti itu pengadaanya di kami,” ucap Sandhi.
Ia menjelaskan, pengadaan traktor yang dilakukan DKPP Bantul berdasarkan proposal yang diajukan oleh kelompok tani.
Setelah proposal masuk, DKPP Bantul akan mengecek.
Apabila ada kelompok tani yang sudah pernah mengajukan, maka akan dilewati.
Kemudian akan melakukan verifikasi ke lapangan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
“Apakah benar membutuhkan benar atau tidak. Ketika menurut hasil verifikasi kami memang masuk akal untuk diberikan traktor, ya kami berikan,” ujarnya.
Sandhi berharap agar kelompok tani yang membutuhkan traktor untuk mengajukan proposal ke DKPP Bantul.
Apabila tidak mengirim proposal permintaan, maka DKPP Bantul tidak bisa menyediakan.
“Memang landasan kami berdasarkan proposal yang mereka (petani) ajukan. Dengan mereka mengirim proposal artinya mereka butuh,” terangnya.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengakui bahwa Bantul masih kekurangan ribuan traktor untuk menggarap lahan pertanian yang ada.
Saat ini, jumlah traktor yang dimiliki gabungan kelompok tani dan petani secara pribadi ada sekitar 1.500 unit.
Namun, dengan luas lahan pertanian mencapai 14 ribu hektare, menurutnya dibutuhkan sekitar 3.358 traktor.
"Satu traktor itu biasanya mampu menggarap lahan sekitar 20 hektare," ungkapnya.
Dengan jumlah traktor yang masih belum memenuhi kata ideal, Joko berharap agar Kementerian Pertanian dapat memberikan bantuan traktor kepada para petani di Bantul.
Hal itu diharapkan dapat mempercepat proses pengolahan dan persiapan lahan pertanian.
“Serta menghasilkan hasil yang lebih optimal daripada metode pengolahan manual atau menggunakan bajak yang ditarik oleh hewan seperti sapi atau kerbau,” kata Joko.
Salah satu petani di Kelompok Tani Sidodadi, Tamantirto, Kasihan, Sardjono mengakui, kelompok taninya saat ini masih kekurangan traktor.
Saat ini baru ada lima unit traktor di kelompok taninya.
Ia mengaku masih membutuhkan setidaknya dua unit traktor lagi untuk menggarap 25 hektare lahan tani.
“Sebetulnya sudah ada tapi masih kurang, masih butuh. Dua unit traktor lagi untuk menggarap 25 hektare,” ujarnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad