RADAR JOGJA - Ada nama pedukuhan unik yang mirip dengan salah satu alat rumahan di Pandak, Bantul. Ialah Padukuhan Gunting yang terletak di Kalurahan Gilangharjo. Kondisi geografis daerahnya berada di dataran tinggi yang cukup kering. Karena itu, masyarakatnya yang bertani jumlahnya sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan warga yang bekerja sebagai pembatik.
Gunting terdiri dari empat RT, warganya berjumlah sekitar 871 dengan sekitar 300an KK. Kepala Pedukuhan Gunting Tumilan mengungkapkan, warganya menjadi pembatik sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, dimulai sejak tahun 1960an dan masih berlanjut hingga sekarang. Batik yang dihasilkan beraneka macam, tidak hanya untuk busana pakaian saja. "Tetapi juga ada batik untuk lukisan namanya hiasan dinding, namanya batik painting segmentednya semuanya asing mancanegara. Itu hiasan dinding tetapi cara membuatnya dibatik dengan canting," katanya, Jumat (22/9).
Tumilan menjelaskan, para wisatawan mancanegara biasanya membeli batik painting hiasa dinding Gunting di Pasar Ngasem. Di sana lah batik dari Gunting dijajakan dan banyak diminati wisatawan asing. Menurutnya, umumnya dibeli sebagai souvenir oleh konsumennya. Batik painting mayoritas hampir 90 persen pembelinya adalah dari mancanegara.
Selain itu, perkembangan yang terbaru dari para pembatik ialah membuat blangkon. Mayoritas pembatik sedangkan yang bertani minoritas jumlahnya. Namun, Tumilan mengeluhkan, dewasa ini jumlah pembatik mengalami paceklik. Menurutnya, rata-rata pembatik di Gunting sekarang usianya sudah cukup menua. "Batik busana dan blangkon pembelinya masih lokal," imbuhnya.
Tumilan menambahkan, kondisi tersebut karena sulitnya regenerasi pembatik di wilayahnya. Penyebabnya ialah sekarang anak muda yang lulus sekolah lebih memilih bekerja di pabrik daripada menjadi pembatik. Jumlah pabrik yang semakin menjamur di Bantul membuat profesi menjadi pembatik dikesampingkan. "Batik Gunting itu karakternya masih Jogjaan klasik, walaupun sudah ada yang kontemporer sesuai keinginan pasar," ungkapnya.
Tidak jarang juga tamu-tamu dari luar daerah datang ke Gunting untuk belajar membatik. Jika anak-anak yang diedukasi biasanya yang mengajarkan juga kalangan anak.
Ketika baru datang pasti menjadi pertanyaan utama kenapa nama dusunnya Gunting. Tumilan membeberkan masyarakat di wilayahnya meyakini satu cerita turun-temurun soal penamaan Pedukuhan Gunting. Menurutnya, daerahnya dahulu menjadi tempat pelarian prajurit Pangeran Diponegoro dari serbuan penjajah Belanda di Goa Selarong. Prajurit itu diyakini menjadi orang yang pertama kali menjejaki atau tinggal di Gunting tepatnya di Sendang Plempoh. Di situ lah dia pertama bermukim saat belum terlalu banyak masyarakat. "Orang sini menyebutnya Ki Selarong atau Kyai Selarong, kami sering kirim doa dalam banyak acara pedukuhan," tuturnya.
Masyarakat meyakini penamaan Gunting dinamai langsung oleh Kyai Selarong. Tumilan mengatakan, dinamai Gunting karena saat tiba di Sendang Plempoh ada pohon yang bersilangan. Dua pohon itu ialah antara pohon plem dan pohon poh atau jangkang. "Itu bersilangan kaya gunting, jadi dikasih nama Gunting di sini. Terus sendangnya dinamai Sendang Plempoh dari kata pohon plem dan pohon poh," ujarnya. (rul/pra)
Editor : Satria Pradika