RADAR JOGJA - Ikan sapu-sapu kerap kali dijumpai di sungai-sungai Indonesia, terutama di sungai yang melintasi kawasan perkotaan.
Di balik bentuknya yang unik, keras, dan kasar, ternyata ikan ini menyimpan rahasia terkait kondisi lingkungan perairan sekitar.
Bagi para peneliti lingkungan, keberadaan ikan sapu-sapu di perairan dalam jumlah yang tidak normal menandakan adanya fenomena yang tidak biasa.
Dominasi ikan sapu-sapu tersebut menjadi alarm bahwa telah terjadi pencemaran lingkungan.
Ikan sapu-sapu merupakan bioindikator alami bagi lingkungan yang tercemar limbah. Dalam ekosistem air yang sehat, biasanya terdapat keragaman jenis ikan yang hidup secara berdampingan.
Namun, bagi lingkungan yang tercemar limbah rumah tangga maupun industri, kondisi ikan di perairan justru mengalami perbedaan.
Populasi ikan sapu-sapu di perairan yang tercemar akan mengalami over populasi.
Di samping itu, keragaman jenis ikan juga berkurang bahkan tidak ada.
Bahkan ikan sapu-sapu bisa mendominasi sekitar 80-90 persen di perairan tercemar.
Hal ini terjadi sebab ikan sapu-sapu memakan alga, detritus, dan sisa-sisa kotoran limbah yang terdapat di sungai tercemar.
Kemudian, ikan sapu-sapu juga tahan terhadap lingkungan yang minim oksigen.
Sementara ikan-ikan lainnya mati karena kekurangan oksigen.
Keadaan demikian karena ikan sapu-sapu memiliki alat pernapasan tambahan berupa labirin.
Kemampuan inilah yang membuat mereka bertahan dan berkembang biak di lingkungan yang kotor.
Sebagai ikan yang hidup di dasar, ikan sapu-sapu terus terpapar polutan yang mengendap di dasar sungai.
Sehingga, ikan sapu-sapu akan bertindak sebagai akumulator atau magnet penyedot logam berat di dasar sungai.
Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa daging ikan sapu-sapu mengandung logam berat, seperti timbal, merkuri, arsenik, hingga kadmium.
Kadar logam berat yang tinggi dalam daging ikan sapu-sapu mencerminkan betapa parahnya polusi kimia yang terjadi di habitat tersebut.
Oleh karena iu, sebelum mengonsumsi ikan sapu-sapu diharapkan untuk memperhatikan kesehatan dan kebersihan ekosistem hidupnya. (Ahmad Yinfa Cendikia)
Editor : Meitika Candra Lantiva