RADAR JOGJA - Lutung Jawa merupakan hewan endemik pulau Jawa.
Lutung Jawa termasuk dalam famili Cercopithecidae keluarga monyet dunia lama (old world monkeys), yang banyak ditemukan di wilayah Asia dan Afrika.
Nama latin Lutung Jawa ialah, Trachypithecus auratus, dalam bahasa ilmiah nama tersebut menggambarkan ciri khasnya, yaitu Trachypithecus yang berarti monyet berbulu lebat, dan auratus merujuk pada warnanya yang keemasan.
Di masyarakat lokal, Lutung Jawa dikenal juga dengan Lutung Bundeng.
Lutung Jawa banyak menggabiskan waktu di pohon.
Mereka tidak berpindah-pindah pulau, karena habitat aslinya ada di pulau Jawa dan di sebagian kecil pulau Bali.
Hutan Tropis menjadi habitat yang disukai Lutung Jawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan pegunungan yang lembab serta rimbun.
Lutung Jawa juga membutuhkan banyak kanopi pohon yang saling terhubung, supaya mereka dapat bergerak bebas tanpa harus turun ke bawah.
Beberapa populasi Lutung Jawa masih ada di kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan Taman Nasional Meru Betiri.
Habitat alami Lutung Jawa terus berkurang akibat deforestasi, perluasan lahan pertanian, dan pembangunan kota.
Kondisi ini membuat mereka sulit menemukan pasangan baru dan semakin terancam punah karena hutan yang terpecah-pecah.
Saat ini, menurut IUCN Lutung Jawa termasuk dalam kategori spesies yang terancam punah.
Ancaman utama yang dihadapi Lutung Jawa;
1. Kehilangan habitat
Alih fungsi dari hutan menjadi lahan pertanian, pemukiman dan industri membuat ruang hidup alami mereka menjadi semakin sempit.
2. Fragmentasi Hutan
Ketika hutan terpecah, kelompok Lutung Jawa akan terisolasi dan akan sulit untuk menemukan pasangan baru.
Hal ini membuat Lutung Jawa rentan terhadap kepunahan.
3. Perburuan dan perdagangan ilegal
Banyak manusia memburu Lutung Jawa untuk dijadikan hewan peliharaan, dijual di pasar gelap dan dieksploitasi dijadikan objek foto di destinasi wisata.
4. Konflik dengan manusia
Lutung sangat menghindari imteraksi dengan manusia tetapi dikarenakan habitat yang kini berkurang membuat Lutung Jawa terpaksa memasuki kebun warga, yang mana hal tersebut akan memicu konflik.
5. Laju reproduksi lambat
Betina hanya melahirkan satu bayi setiap kelahiran dengan jarak kelahiran yang panjang, sehingga kenaikan populasi berlangsung sangat lambat.
Lutung Jawa memang memiliki banyak ancaman, tetapi masih ada harapan untuk menyelamatkannya.
Program rehabilitas dan pelepasliaran telah dilakukan di sejumlah wilayah untuk memberi kesempatan bagi lutung jawa untuk tetap hidup bebas di habitat alaminya.
Berbagai lembaga konservasi pun telah berusaha untuk menyelamatkan dan melindungi populasi Lutung Jawa.
Sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda untuk melindungi satwa endemic Pulau Jawa ini.
Mari kita ikut serta untuk melindungi habitat serta keberadaan Lutung Jawa di alam untuk kelestarian hutan kita.
Mulai sekarang kita rapatlan benteng konservasi untuk satwa dan puspa yang ada di Indonesia. (Priskila)
Editor : Meitika Candra Lantiva