RADAR JOGJA - Tidak banyak atlet yang mampu menapaki dua dunia sekaligus dengan sama baiknya, yakni prestasi olahraga dan pencapaian akademik.
Dunia olahraga kerap dianggap menuntut totalitas fisik. Sementara pendidikan membutuhkan konsistensi intelektual. Namun stigma itu berhasil dipatahkan oleh Endang Sulistyani.
Endang Sulistyani menjadi contoh nyata bahwa atlet tidak harus berhenti bermimpi ketika masa kompetitifnya berakhir.
Mantan pemain voli asal Jogja ini justru mampu menuntaskan pendidikan hingga jenjang magister, sembari membangun karier profesional di badan usahan milik negara (BUMN) hingga pensiun.
Perempuan kelahiran Medan, 22 Januari 1968 ini tumbuh hingga dewasa di Kota Gudeg. Di sini, karakter, disiplin, dan mental bertandingnya terbentuk.
Karier olahraga Endang tidak langsung bermula dari voli. Sejak usia sekolah dasar, ia lebih dulu bergabung dengan Perkumpulan Bulutangkis (PB) sekitar empat tahun. Namun persaingan yang ketat membuatnya mencari jalur lain yang lebih sesuai dengan potensi fisiknya.
"Saya sadar, kalau di bulutangkis, untuk berprestasi nasional itu jalurnya sudah padat. Saya harus mencari olahraga yang bisa memberi peluang lebih besar," ujar Endang pada Radar Jogja Jumat (30/1).
Pilihannya jatuh pada voli. Dia kemudian bergabung dengan klub legendaris PBV Yuana Sarana Olahraga (Yuso) pada awal 1980-an.
Endang mulai memahami teknik, disiplin latihan, serta mental kompetisi secara lebih matang. Dari Yuso pula, kariernya menanjak ke level daerah hingga nasional.
Medio 1983, Endang dipercaya memperkuat tim DIY pada Kejuaraan Nasional Junior Voli Indoor di Jakarta.
Prestasinya terus berlanjut dengan membawa DIY meraih juara dua kejuaraan Junior 1986 di Bali dan kejuaraan Junior 1987 di Surabaya.
Capaian tersebut mengantarkannya masuk Tim Nasional (Timnas) Junior Indonesia. Puncaknya, Endang tampil bersama Timnas Junior pada Kejuaraan Prince Cup di Bangkok, Thailand, dan kembali mempersembahkan posisi runner-up.
Ia juga sempat mengikuti training camp persiapan SEA Games 1991 di Manila, Filipina.
Namun di titik itu pula Endang mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Dia beralih dari voli indoor ke voli pantai. Postur tubuh setinggi 168 sentimeter membuatnya realistis melihat peluang di level internasional.
Baca Juga: Minta Dilegalkan Jadi Transportasi Wisata, Sopir Odong-Odong Desak SE Bupati Kebumen Dikaji Ulang
"Kalau indoor, tinggi badan sangat menentukan. Di voli pantai, feeling, fokus, dan membaca permainan jauh lebih berperan," ungkapnya.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Bersama partner-nya kala itu, Aminah Hidayati, Endang mencatatkan sejumlah prestasi internasional.
Mulai dari juara tiga Kejuaraan Voli Pantai di Bali 1991, peringkat lima besar Asia di Boracay, Filipina, hingga runner-up Sirkuit Asia II Voli Pantai 1992 di Pattaya, Thailand.
Prestasi tersebut menjadi tonggak kebangkitan voli pantai putri Indonesia di tingkat Asia. Di akhir tahun 1992, pasangan Endang-Aminah menutup kiprah gemilang dengan meraih juara pertama Piala Menpora di Istora Senayan, Jakarta.
Tahun 1993 menjadi penanda berakhirnya karier profesional Endang di voli pantai. Ia memilih pensiun dan memusatkan perhatian pada pendidikan dan pekerjaan.
"Meski saat itu saya juga masih aktif bermain voli indoor untuk ajang antarperusahaan dan mewakili DIY," tuturnya.
Di sisi lain, di tengah kesibukannya sebagai atlet, ia juga menjadi pegawai di PLN Jogjakarta dengan masa kerja sekitar 32 tahun. Dia pun baru pensiun sekitar dua tahun silam.
Pada aspek lain, Endang menempuh pendidikan D3 Akuntansi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada 1994. Ia kemudian melanjutkan S1 Manajemen di Universitas Widya Mataram (UWM) lulus pada 2010, sebelum menuntaskan S2 Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa pada 2014.
"Saya ingin membuktikan bahwa atlet tidak hanya bisa berprestasi di olahraga, tapi juga mampu berkembang dan sukses di bidang lain, termasuk pendidikan," sebutnya.
Selama sekitar 32 tahun berkarier di PLN, Endang menempati berbagai posisi. Mulai dari pemasaran, teknik, pelayanan pelanggan, hingga sumber daya manusia. Ia resmi purna tugas pada usia 56 tahun, namun tetap aktif berwirausaha dan berbagi motivasi kepada lingkungan sekitar.
Baca Juga: Kasus Bela Istri dari Penjambret Ditutup, Hogi Minaya dan Arsita Ingin Buka Lembaran Baru
Bagi Endang, beberapa aspek seperti sportivitas, disiplin, dan kerja cerdas adalah nilai universal yang berlaku dan terus dijalankan. "Tidak harus di olahraga. Prinsip itu saya bawa sampai ke dunia kerja dan pendidikan. Kalau dijalani konsisten, hasilnya akan mengikuti," lontarnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita