Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pra-koperasi Menjadi Solusi Cegah Pedagang dari Utang Kredit Berbunga Selangit

Yogi Isti Pujiaji • Sabtu, 7 Februari 2026 | 14:55 WIB
Aktivitas jual beli di Pasar Gamping beberapa waktu lalu. Praa-Koperasi Rukun Maju sudah ada di Pasar Gamping.
Aktivitas jual beli di Pasar Gamping beberapa waktu lalu. Praa-Koperasi Rukun Maju sudah ada di Pasar Gamping.

 

SLEMAN - Bank plecit acapkali menjadi pilihan praktis para pedagang pasar tradisional yang membutuhkan suntikan modal dengan proses cepat dan tanpa syarat yang ribet. Meskipun bunganya sangat tinggi. Nah, agar para pedagang tak terjerat praktik para rentenir itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman menginisiasi terbentuknya pra-koperasi.

Keberadaan lintah darat masih terus menghantui para pedagang pasar tradisional. Terutama bagi mereka yang kesulitan modal namun tidak memiliki cukup agunan sebagai jaminan dalam pengajuan kredit pada lembaga perbankan resmi.

Kredit ilegal pun ditempuh lewat bank plecit. Para pedagang sebenarnya tahu bahwa mengambil utang pada rentenir itu berisiko tinggi masuk dalam pusaran utang yang sulit diputus dengan bunga tidak wajar. Belum lagi metode penagihannya sering kali dengan cara intimidatif. Tak sedikit yang akhirnya kesulitan melunasi utang. Karena terlanjur menumpuk. 

Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman hadir di tengah para pedagang pasar, membawa solusi alternatif bagi mereka yang butuh modal usaha. Yakni melalui lembaga pra-koperasi. Saat ini ada 21 pasar tradisional yang jadi sasaran program tersebut. Salah satunya Pasar Gamping.

Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih
Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih

Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih menjelaskan, program itu berawal kegiatan sekolah pasar. Dalam rangka pengembangan dan pembinaan perdagangan tradisional. Salah satu materinya adalah mengurangi kredit ilegal. Demi meningkatkan kesejahteraan para pedagang. "Di Pasar Gamping namanya Pra-Koperasi Rukun Maju. Mulai beroperasi sejak 6 Oktober 2024," ungkapnya, Kamis (5/2).

Mae mengatakan, saat awal pembentukan pra-koperasi tersebut beranggotakan 30 orang. Modalnya dari simpanan pokok per anggota Rp 50 ribu. Dibayarkan sekali saja. Serta simpanan wajib tiap anggota Rp 10 ribu per bulan. Kekayaan pra-koperasi saat pendirian itu  Rp 1,95 juta.

Seiring berjalannya waktu pra-koperasi di Pasar Gamping kian berkembang. Hingga sekarang. Jumlah anggota dan asetnya pun terus bertambah. Apalagi setelah mendapat hibah dari Baznas Sleman Rp 20 juta. Sehingga keberadaan pra-koperasi itu makin luas manfaatnya bagi para anggota. Terutama bagi mereka yang butuh pinjaman modal. "Total pinjaman yang diberikan pada anggota sudah lebih dari Rp 27 juta," ujarnya.

Selain itu, Disperindag Kabupaten Sleman juga menyelenggarakan berbagai program penunjang. Dengan menggandeng Bank BPD DIY, Bank Sleman, Bank Sleman Syariah, dan BRI. Untuk program pinjaman modal dengan mekanisme jemput bola. Jadi, pedagang tidak perlu antre dan meninggalkan dagangan ketika mereka harus menunaikan kewajiban bayar setoran kredit.

Baca Juga: Oknum Mahasiswa yang Melakukan Kekerasan Mahasiswi Unisa Yogyakarta Dijatuhi Sanksi Akademik: Skorsing Dua Semester, Drop Out Bila Sah Secara Hukum

Pengembangan usaha perdagangan di Pasar Gamping juga tak luput dari perhatian pemerintah. Satu di antaranya melalui program kurasi jajan pasar. Dalam kegiatan ini Disperindag Kabupaten Sleman berkolaborasi dengan koki bintang lima. Selain itu, bersama jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengadvokasi para pedagang terkait barang bebas berbahaya. "Kami terus berupaya mendorong kesejahteraan pada pedagang lewat berbagai program," tegas Mae.

Sementara itu, Ketua Pra-Koperasi Rukun Maju Istri Wahyuni mengungkapkan, layanan peminjaman modal pra-koperasi sangat membantu pedagang. Terutama pedagang kecil. Karena sistemnya lebih fleksibel. Bahkan ada kelonggaran bagi debitur yang mengalami kendala pembayaran cicilan. "Misal kalau yang pinjam sakit sampai enggak jualan. Ya ditunggu. Yang penting nanti dibayar dan bisa bermanfaat," jelasnya.

Penyaluran pinjaman modal pra-koperasi didasarkan pada pertimbangan ketua kelompok kerja (pokja). Jumlahnya ada sebelas orang. Mereka dinilai paling mengenal karakter pedagang yang menjadi anggota pokjanya. Termasuk kemampuan bayar tiap anggotanya yang akan mengajukan pinjaman.

Hal ini penting karena jumlah pedagang di Pasar Gamping tak kurang dari 900-an orang. Adapun rata-rata pinjaman di pra-koperasi sebesar Rp 1 juta per pedagang. (del/yog)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kesejahteraan #koperasi #bank plecit #simpanan pokok #pinjaman #Disperindag Kabupaten Sleman #program #pedagang #pasar tradisional #pra