SLEMAN - Masjid Nurul Ashri, Deresan, Caturtunggal, Depok, termasuk masjid yang aktif dalam kegiatan sosial melalui inovasi program-programnya. Salah satu program yang menarik dan menginspirasi ialah program Bantuan Makan.
Perwakilan Divisi Program Masjid Nurul Ashri Sunyoto mengatakan, lahirnya program itu berawal dari informasi terkait orang meninggal dunia karena kelaparan. Pengelola masjid pun menginisiasi program tersebut dan sudah berjalan selama enam bulan.
"Banyak orang yang menahan lapar tapi takut dan malu untuk menyampaikannya. Padahal jiwanya terancam," ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (8/11).
Maka dari itu, teknis penyelenggaraan program dibuat dengan menjaga privasi penerima manfaat. Bantuan itu oleh pengelola masjid dikirim, bukan diserahkan secara terbuka. "Bantuan bersifat privasi. Mulai data pribadi, nama alamat segala macam kami sensor semua," katanya.
Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan dipersilakan untuk menghubungi kontak pengelola masjid. Pengelola masjid akan segera menindaklanjuti dengan pendataan. Sekaligus untuk menentukan jenis bantuan, karena bervarisasi sesuai kebutuhan.
"Ada yang dapat makanan jadi, ada yang dapatnya bahan makanan. Tergantung keterangan yang disampaikan penerima manfaatnya," jelasnya.
Misal, lanjutnya, masyarakat yang membutuhkan bantuan bercerita bahwa suami belum gajian, maka bantuan yang dipilih adalah bahan makanan. Setiap sore, masjid itu juga menyediakan konsumsi dan agenda kajian.
"Kalau ada mahasiswa yang tidak biasa memasak, kami kirimkan makanan jadi saat pengajuan," katanya.
Bahan makanan yang dimaksud umumnya berisi sembako. Di antaranya beras premium 5 kg, telur 10 biji, minyak, hingga mi instan untuk kebutuhan darurat yang didapatkan dari sedekah para jamaah masjid. "Paling jauh (mengirim bantuan) itu ada ke Kalimantan, Sumatera," ungkapnya.
Berbagai kisah yang dialami para penerima bantuan membuat pengelola miris. Mulai dari perantauan yang belum punya kerja dan uangnya habis, anak-anak yang ditinggal merantau orangtuanya dan lain-lain.
Menurutnya, dampak negatif program itu adalah menjadikan penerima bergantung pada bantuan. Awal progran dijalankan, menurutnya, sempat ada kasus seperti itu. Kemudian pengelola membuat kebijakan interval satu bulan.
"Di sisi lain kita juga mendidik agar tidak merasa nyaman dengan fasilitas tersebut. Tapi bagaimana digunakan saat keadaan darurat saja," jelasnya. (oso/laz)