SLEMAN - Usia bukan kendala untuk belajar, usia bukan halangan untuk menghafal. Dua kalimat ini tidak saja menjadi slogan atau penyemangat semata, namun benar-benar diimplementasikan di Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilun Najah.
Ponpes yang berlokasi di Temuwuh Kidul RT3/RW 31, Sembung, Balecatur, Gamping, Sleman, ini secara spesifik menjadi wadah edukasi bagi para orang tua dengan kategori lanjut usia (lansia)."Seluruh santri kami memang lansia. Itu konsep yang memang dibawa sejak awal untuk berkonsentrasi pada lansia," kata pendiri sekaligus pembina Yayasan Ponpes Sabilun Najah H. Joko Wahono Minggu (22/12).
Hari itu diwisuda 34 santri lansia. Mereka adalah wisudawan angkatan ke-5. Ada 30 perempuan dan 4 laki-laki. Selain wisuda, agenda yang juga selalu dilakukan adalah bakti sosial dengan pembagian sembako.
Adapun paket sembako itu ditujukan untuk warga sekitar pondok, hingga para santri juga banyak yang menerima paket sembako itu."Paket baksos yang dibagikan ada 110. Pembagiannya malam menjelang wisuda atau H-1, dibarengi dzikir dan istighotsah agar acara wisudanya lancar. Harus diakui warga sekitar ponpes masih banyak yang menengah ke bawah, termasuk para santri ini," tambahnya.
Joko menuturkan, ponpes itu pada awalnya sebuah majelis taklim. Saat itu banyak jamaah yang hadir merupakan orang tua. Dari sana ia berkeinginan mewadahi secara lebih terprogram para orang tua itu, lantas terciptalah Ponpes Sabilun Najah."Kami ingin mendampingi para lansia ini untuk memperkuat dan memperdalam ilmu agama mereka," serunya.
Diakui, seluruh lansia yang menjadi santri di Ponpes Sabilun Najah sama sekali tidak dipungut biaya. Mereka juga diberi keleluasaan untuk mengaji sesuai keinginan mereka."Kami punya program minimal setahun pendidikan lalu wisuda. Ada juga yang sudah beberapa tahun di sini. Naik tingkatkan setiap tahunnya," ujarnya.
Ke depan Joko berharap gaung Ponpes Sabilun Najah bisa lebih masif dan bisa memfasilitasi lebih banyak santri. Di samping itu, juga dibarengi peningkatan fasilitas, sarana prasarana, hingga program dari pondok."Kami yang mengajar di sini tidak dibayar. Sejauh ini menggunakan dana pribadi dan beberapa dana kolektif dari donatur. Namun kami belum punya donatur tetap. Kami ingin terus mengabdi dan membantu mereka, karena program ini setiap hari ada," terangnya.
Sementara itu, salah seorang santri, Sumilah mengaku keinginan untuk bergabung di Ponpes Sabilun Najah murni datang dari dirinya sendiri. "Saya ingin bisa ngaji, salat, dan juga bisa mendalami ilmu agama," ujar perempuan berusia 56 tahun ini.
Diakui, selama menjadi santri di Ponpes Sabilun Najah kurang lebih tiga tahun. Ia sangat senang, selain bisa mendalami ilmu agama, proses belajar yang dilakukan juga ideal, apalagi dengan rekan-rekan seusianya."Senang karena teman-teman di sini seumuran. Saya setiap hari ke sini untuk belajar bersama mereka. Ngaji dan belajarnya setiap hari, mulai setengah lima sore sampai pukul 9 malam," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Din Miftahudin