RADAR JOGJA - Warga Dusun Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman melakukan tradisi Nguras Umbul kemarin (7/7). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk melestarian mata air tersebut.
Sesepuh Dusun Mudal Sumantoro menuturkan, Umbul Mudal ini spesial lantaran masih berada di wilayah perkotaan. Baginya, ini adalah sebuah anugrah karena umumnya sumber air hanya muncul di lereng jurang, pegunungan, atau di sekitar pohon besar. “Pohon di sekitar umbul kami tebang juga tidak masalah,” tuturnya.
Mata air umbul ini pernah mati selama sebulan setelah dibersihkan lima tahun lalu. Menurut Sumantoro, ini disebabkan karena pasir di sekitar sumber air yang dibuang. “Pasirnya ada sekitar lima bakul. Ketika dikembalikan, selang beberapa menit, airnya muncul lagi,” tambahnya.
Oleh sebab itu, proses pembersihan umbul ini mesti dilakukan hati-hati.
Mata air yang muncul di permukaan ini sendiri memiliki debit 150-200 liter per menit. Kini, Umbul Mudal dialirkan ke 40 rumah sebagai sumber air tambahan. Disediakan pula kolam yang bebas digunakan untuk mandi. “Tapi enggak boleh pakai sabun,” tambah Sumantoro.
Sumantoro menjelaskan, Umbul Mudal dibersihkan tiap satu minggu sekali. “Airnya mengandung garam jadi harus sering dikuras karena berkerak,” sebutnya.
Setelah adat Nguras Umbul ini selesai, terlihat beberapa orang turut mengambil air sekaligus mandi di kolam. Hal ini wajar dilakukan karena air dari umbul dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
Kini, Sumantoro terus berupaya melestarikan budaya di umbul sekaligus menjaga kelestarian mata air ini. Terlebih bagi warga sekitar yang ingin mendirikan bangunan. Agar berhati-hati dan tidak tidak merusak sumber air. “Tanah di sekitar umbul ini sudah milik perorangan,” jelas Sumantoro.
Ketua panitia pelaksana Nguras Umbul Ari Setyawan menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud syukur dan pengingat untuk melestarikan alam. “Banyak sumber air yang sudah rusak. Umbul ini mesti kita jaga,” katanya.
Ari menuturkan kegiatan ini turut diikuti dengan acara pagelaran jathilan. Selain itu, kirab budaya yang diakhiri dengan rebutan berkat dari gunungan dari hasil bumi dan jajanan. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika