SLEMAN - Tingkat hunian hotel atau okupansi hotel di Sleman tergolong rendah pada bulan Ramadhan.
Para pengusaha hotel pun melakukan siasat dengan memaksimalkan paket buka bersama (bukber) puasa agar tetap mendapatkan pemasukan.
Ketua Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia PHRI Sleman Andhu Pakerti mengatakan, pada awal-awal bulan Ramadhan seperti sekarang okupansi hotel memang tergolong rendah.
Bahkan, untuk angkanya hanya menyentuh kisaran 50 persen.
Dia mengungkap, pada masa low season seperti sekarang pengusaha hotel yang tergabung dalam PHRI Sleman banyak yang melakukan renovasi minor.
Kemudian, ada pula sebagian anggota yang mengikuti kegiatan marketing seperti event Matta Fair yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kemudian supaya agar tetap ada pemasukan, sambung Andhu, para pengusaha hotel juga banyak yang memaksimalkan promo-promo buka bersama.
Lantaran cukup diminati oleh konsumen, harga yang ditawarkan pun cukup bervariatif dengan rata-rata Rp 100 ribuan per pax.
“Okupansi hotel di awal bulan Ramadhan biasanya low, sehingga pada masa-masa low season pengusaha hotel dan restoran memaksimalkan promo-promo bukber,” ujar Andhu, Jumat (15/3).
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Zayid menyampaikan, bahwa untuk tahun ini pihaknya menarget jumlah kunjungan wisata mencapai 7,5 juta wisatawan.
Pihaknya optimistis karena pada tahun 2023 lalu jumlah kunjungan wisata ke Sleman dapat mencapai hingga 8,8 juta wisatawan.
Untuk mencapai target tersebut, lanjutnya, pemerintah juga menyiapkan Calendar Of Event 2024 yang memiliki lebih dari 120 kegiatan.
Dari jumlah tersebut 10 event di antaranya merupakan kegiatan berskala internasional.
Lalu, 12 event berskala nasional. Serta kegiatan berskala lokal berjumlah sebanyak 99 event.
Sementara untuk bentuk kegiatannya, Ishadi membeberkan, bahwa ada 40 event yang berbentuk MICE atau berupa pameran dan eksibisi.
Kemudian yang berbentuk festival sebanyak 34 event. Untuk kegiatan berupa event budaya dan musik sebanyak 23 event.
Kemudian untuk event yang berbentuk kegiatan keolahragaan atau sport event, Dinas Pariwisata Sleman mencatat jumlahnya sebanyak 17 event.
Kemudian untuk event yang berbentuk acara keagamaan berjumlah 7 event.
“Dari ratusan event itu ada yang menjadi highlight atau andalan, di antaranya upacara adat Labuhan Merapi pada bulan Februari, Sleman Temple Run di November, dan Barata XXXIX di bulan Desember,” ungkap Ishadi.
Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo meminta, agar peluncuran Calendar of Event 2024 bisa dibarengi dengan konsekuensi seluruh penyelenggara event.
Sebab, kegiatan yang diselenggarakan nantinya membawa kredibilitas pemerintah dan penyelenggara di mata wisatawan.
Karena itu, Kustini pun berharap, agar penyelenggaraan event benar-benar disiapkan secara profesional.
Selain itu, dia pun mendorong agar masyarakat bisa berinovasi menggelar event pariwisata yang menarik.
“Kesuksesan acara yang terdaftar dalam Calendar of Event 2024 ini akan sangat berpengaruh bagi acara-acara yang lain di kemudian hari,” pesannya. (inu)