Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Enam Film Karya Sineas Muda Bakal Diputar di TBY

Editor News • Senin, 13 Maret 2023 | 22:11 WIB
SINEAS MUDA : Para sineas muda saat menceritakan enam karya film hasil pendanaan Dana Keistimewaan oleh Kundha Kabudayan DIJ saat di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (14/3). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SINEAS MUDA : Para sineas muda saat menceritakan enam karya film hasil pendanaan Dana Keistimewaan oleh Kundha Kabudayan DIJ saat di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (14/3). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) bakal memutar enam film karya sineas muda Jogjakarta. Seluruhnya adalah film yang dibiayai dengan Dana Keistimewaan. Pemutaran film akan berlangsung Selasa (14/3) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tepatnya 18.30 WIB hingga 21.00 WIB.

Enam film yang akan diputar terdiri dari dua kategori. Dua film dokumenter dengan judul Nginang Karo Ngilo dan Kanaka. Lalu empat film fiksi berjudul Nyalawadi, Lebaran Dari Hongkong, Kala Nanti dan Piye Perasaanmu Nek Dadi Aku.

“Nobar film karya sineas muda ini terbuka untuk umum dan gratis,” jelas Kepala Seksi Seni Kundha Kabudayan DIJ Aryato Hendrp Suprantoro ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (13/3).

Sutradara film Kanaka Regina Surbakti menceritakan film karyanya. Bercerita tentang keseharian seorang seniman lukis kuku. Fokusnya pada lingkup keluarga saat membagi waktu untuk bekerja dan waktu untuk anak.

Film karyanya menggambarkan situasi ekonomi dalam rumah tangga. Karya ini, lanjutnya, juga representasi kehidupan di Jogjakarta. Khususnya tentang seorang yang banting tulang untuk kelangsungan keluarganya.

“Dia membuat pelanggan nyaman dalam melukis kuku. Stay strong walaupun ada masalah di rumah," kata Regina.

Nginang Karo Ngilo karya sutradara Aan Ratmanto bercerita tentang maestro Campursari Manthous. Dengan menghadirkan kisah perjalanan selama bermusik. Mulai dari merintis karir di Gunungkidul hingga babat alas ke Semarang dan Jakarta.

Film fiksi Piye Perasaanmu Nek Dadi Aku karya Yulinda Dwi Andriyani berakar dari kegelisahannya dan sang produser. Berupa keresahan dalam hubungan percintaan. Termasuk adanya aksi kekerasan dalam menjalani hubungan percintan. 

"Terkadang orang lain menganggap kekerasan itu hal yang sepele. Lalu kenapa masih mau sama dia. Kita yang dihubungan itu susah, karena menggunakan hati dan pikiran," ujarnya.

Film Lebaran dari Hongkong karya Achmad Faishol mengangkat banyak isu Komplek. Mulai dari seorang tenaga kerja wanita (TKW) lalu momen Lebara hingga problem togel judi Hongkong.

Lalu film Nyalawadi karya Nisa Fijriana yang menceritakan tentang fenomena klitih. Berupa akar dari permasalahan aksi kekerasan jalanan ini. Terutama tentang krisis kepercayaan warga kepada kegiatan anak muda, karena dampak munculnya klitih.

"Terutama kegiatan secara privat atau malam hari. Padahal anak muda selalu punya sisi kreatif, harus bisa difasilitasi. Semua bisa dikonfirmasi, tidak menimbulkan kecurigaan, apa yang dilakukan bisa diaudiensi," kata Nisa.

Film terkhir adalah Kala Nanti karya Praditha Blifa. Film ini berkisah tentang dua sahabat tuna netra yang akan berpisah jauh. Mereka memutuskan untuk mewujdukan keinginan mereka berdua sebelum berpisah.

"Ingin menunjukkan bahwa teman-teman tuna netra juga bisa berdaya. Mereka bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri, dan mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan," ujar Praditha. (Dwi) Editor : Editor News
#sineas Jogjakarta #Film Jogjakarta #Taman Budaya Yogyakarta #Kundha Kabudayan DIJ #program kompetisi film