JOGJA - Aroma kopi menyeruak begitu memasuki Keboen Radja atau halaman kantor Radar Jogja, kemarin (24/4). Beragam jenis kopi benar-benar memanjakan indra penciuman yang hadir sejak pagi hari. Aroma ini berasal dari kopi-kopi racikan 81 barista yang bertarung dalam ajang Threesome Aeropress Battle.
Ajang tahunan ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul brewer dan barista asal Jogjakarta. Terlihat juga beberapa brewer dan barista dari Bandung, Tasikmalaya, Solo, Semarang dan Surabaya. Seluruhnya mengeluarkan kemampuan terbaik mereka dalam meracik kopi.
"Ini merupakan tahun kedua berkumpulnya brewer dan barista dalam ajang yang sama. Dalam Threesome Aeropress Battle, semuanya berkumpul dan menyajikan kopi-kopi racikan mereka," ujar salah seorang juri Habi Burahman.
Setelah melalui persaingan ketat, keluarlah Amrul Latif Hijri sebagai juara 1. Brewer kelahiran Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 27 Desember 1996, ini mampu menggungguli Arief dan Anugrah di babak final.
Dalam babak final ini, Amrul, sapaannya, ditantang untuk meracik kopi Panama. Uniknya, Barista Studio Kopi ini belum pernah menjumpai kopi Panama secara langsung. Dirinya hanya berbekal pengetahuan yang didapatkan selama menjadi peracik kopi.
"Tantangan memang dari biji kopi. Dari semua saya cuma pernah ketemu yang Bali. Selanjutnya yang sampai akhir belum pernah bertemu," katanya.
Untuk meracik biji kopi Panama, Amrul benar-benar mengandalkan inderanya. Karakter khas dari kopi ini, menurutnya, sangat kompleks. Sehingga perlu teknik yang tepat untuk mengeluarkan karakter asli dari biji kopi ini.
Ia mengaku senang bisa ikut dalam ajang ini. Terlebih dapat bertemu dengan brewer dan barista berbagai kota. Selain mempererat persahabatan, juga mempertajam pengalaman.
"Menyenangkan ketika bisa kumpul bersama teman-teman. Apalagi di sini bisa berbagi pengalaman, seperti ragam kopi nusantara. Menurut saya, Indonesia itu kaya akan kopi, jadi ini juga bisa untuk mendukung kopi nusantara," jelasnya.
Semua kopi yang diracik menggunakan teknik manual brewing aeropress. Kunci dari perlombaan ini adalah untuk memancing aroma khas dari setiap biji kopi. Bagaimana menghadirkan kesan yang membuat biji kopi itu menjadi berkelas.
Juara tahun lalu, Ahmad Miftahussalam, melihat ajang ini terus berkembang. Tahun lalu ajang ini baru diikuti sekitar 54 peserta. Pria yang mengenyam ilmu di Rumah Kopi Baretto Tasikmalaya, ini mengaku senang dapat ikut turut serta lagi dalam ajang ini.
"Waktu mau mendaftar ternyata sudah full. Untungnya ada penambahan kuota peserta, jadi langsung segera mendaftar lagi. Persaingannya semakin ketat, banyak pecinta kopi muda saat ini," katanya. (dwi/laz) Editor : Administrator