RADAR JOGJA - Suku Dayak merpakan salah satu suku yang tinggal di pedalaman Pulau Kalimantan.
Suku Dayak hidup di dekat aliran sungai hutan.
Suku ini pertama kali diberi nama oleh penjajah Belanda yang melakukan ekspansi ke Pulau Kalimantan.
Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan saat sultan Banjar membuat perjanjian dengan Hindia Belanda pada 1826.
Istilah ini muncul untuk menggantikan Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) dan digantikan dengan Dayak Besar dan Dayak Kecil.
Dalam sejarah, para tentara Hindia Belanda menyebut tanah tempat mereka tinggal sebagai tanah Dayak.
Karena hidup dekat dengan sungai, sebagian besar suku Dayak berprofesi sebagai nelayan.
Masyarakat suku Dayak memiliki ciri-ciri Austro-Melanesia yang mana mereka memiliki proporsi tulang kerangka cenderung lebih besar daripada tulang kerangka masyarakat Pulau Kalimantan lainnya.
Suku Dayak saat ini memiliki kurang lebih 405 sub etnik di Indonesia.
Terdapat banyak pergantian sub etnik ini disebabkan oleh pengaruh dari para pendatang.
Sebagian dari suku Dayak merasa perlu untuk mempertahankan keaslian dari budayanya dan memilih masuk ke pedalaman.
Sedangkan sebagian lagi memilih untuk berakulturasi dan melahirkan kebudayaan baru dan menjadi Sub-etnis.
Saat ini, suku Dayak terbagi dalam 6 etnis besar antara lain; (1) Apokayan (2) Ot Danum-Ngaju (3) Murut (4) Iban (5) Punan dan yang terakhir (6) Klematan atau Bidayu.
Meskipun terbagi dalam rumpun etnis dan sub-etnis yang beragam namun kesemuanya memiliki tradisi dan budaya yang mirip dan sangat khas.
Rumpun yang tertua dan lama mendiami Pulau Kalimantan adalah suku Dayak Punah.
Bahasa yang digunakan oleh suku Dayak bermacam-macam namun mayoritasnya menggunakan bahasa Dayak, bahasa Banjar, Melayu dan Indonesia.
Sebagai suku terbesar di Kalimantan, suku ini memiliki jumlah populasi yang cukup dominan di seluruh Pulau Kalimantan.
Berdasarkan data terakhir yang didapatkan suku ini memiliki jumlah hingga 3.400.000 jiwa.
Salah satu tradisi yang terkenal dari suku ini adalah jenis penguburan yang terbagi menjadi penguburan primer dan sekunder.
Penguburan primer namanya Parepm Api dan Kenyauw.
Sedangkan penguburan sekunder ada Mambatur, Kwangkai dan lainnya.
Namun proses penguburan ini juga dilakukan secara berbeda tergantung sub suku dayak masing-masing. (Aina Puspita Ningrum)
Editor : Meitika Candra Lantiva