Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tradisi Tidur, Simbol Kemenangan melalui Suara Bedug, Membangun Semangat Beragama dan Berbudaya Anak-Anak

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 22 Februari 2026 | 09:10 WIB

 

Jamaah beraktivitas di Masjid Gede Mataram Kotagede, kemarin (17/2). Masjid Gede Mataram Kotagede  memiliki tradisi unik Salat Tarawih dua kali selama Ramadan, yaitu sesi pertama setelah Isya dan sesi
Jamaah beraktivitas di Masjid Gede Mataram Kotagede, kemarin (17/2). Masjid Gede Mataram Kotagede memiliki tradisi unik Salat Tarawih dua kali selama Ramadan, yaitu sesi pertama setelah Isya dan sesi
 

Ada tradisi unik dan menarik yang ditemukan di Jogjakarta khususnya ketika bulan Ramadan. Tradisi itu disebut tidur, yakni kebiasaan menabuh bedug menjelang puasa dan Hari Raya Idul Fitri.

Sosiolog Universitas Widya Mataram (UWM) Jogjakarta Mukhijab mengatakan, pemukulan bedug di masjid-masjid banyak ditemukan di Jogja, terutama saat Ramadan. Salah satu masjid yang masih melestarikan tradisi tidur adalah Masjid Mataram Kotagede.

"Banyak anak-anak di sana antre memukul bedug. Biasanya sehari menjelang puasa atau sehari menjelang bada (Idul Ftri)," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (20/2).

Kadang, abdi dalem di sana juga ikut memukul bedug. Biasanya tradisi itu dilaksanakan pada sore hari setelah Ashar. Menurutnya, ada irama khas dalam penabuhan bedug. Orang-orang banyak menyebutnya irama dara muluk.

"Sama anak-anak, kadang diplesetkan menjadi bedug ngudheg liwet dendeng gudel, berasal dari suara tabuhan yang bunyinya diartikan dengan candaan," bebernya.

Menurut sudut pandang sosiologis, tradisi tersebut merupakan pesan simbolik. Tak hanya di Kotagede, namun beberapa masjid yang juga mengadakan tradisi demikian. "Kalau dalam Islam itu sebagai simbol penanda waktu salat tiba," bebernya.

Tradisi itu muncul karena dulu belum ada pengeras suara. Suara bedug menjadi simbol waktu salat, puasa maupun menjelang Lebaran. Banyak masyarakat dulunya menanti suara tabuhan bedug itu sebagai tanda mulai.

"Itu kan satu penanda tradisi yang turun temurun dan itu menjadi bagian dari semacam semangat," paparnya.

Bagi anak-anak, lanjutnya, tabuhan bedug bisa juga dimaknai sebagai tanda kemenangan. Terutama jika ditabuh ketika mau buka puasa maupun Lebaran. Mereka banyak berebut untuk ikut memegang dan memukul bedug.

"Tradisi itu kan kini langka. Ketika itu masih berlangsung, artinya di lokasi tersebut masih ada sesepuh yang menularkan dan melestarikan," jelasnya.

Ia berpandangan anak-anak akan suka berpartisipasi dalam tabuh bedug. Itu akan menjadi kenangan ketika mereka beranjak dewasa. Selain itu, juga sebagai hiburan yang menyenangkan.

"Menjadi penanda semangat beragama maupun budaya, membentuk karakter yang baik juga," bebernya.

Ekspresi anak-anak terwakili dengan menabuh bedug. Bunyinya biasanya dinantikan karena sebagai tanda berbuka setelah mereka menjalankan puasa seharian.

"Bagi orang tua itu biasa, tapi bagi anak-anak itu berarti," ucapnya.

Masa kecil Ijab, sapaan akrabnya, juga merasakan tradisi tidur atau tabuh bedug di masjid tempat tinggalnya. Tak jarang ia ikut berebut dengan teman-teman kecilnya untuk bisa duluan dalam menabuh bedug.

"Itu sampai sekarang saya ingat, kalau di tempat saya H-10 Lebaran itu sudah mulai ditabuh," jelasnya. (oso/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#UWM #tidur #bedug #mukhijab #tradisi #lebaran