Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tingkatkan Nilai Ekonomi, Mahasiswa UNY Olah Ampas Tahu Jadi Bistik

Fahmi Fahriza • Rabu, 17 April 2024 | 01:48 WIB
INOVASI: Mahasiswa UNY yang berhasil mengolah ampas tahu menjadi bistik dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. (DOK PRIBADI)
INOVASI: Mahasiswa UNY yang berhasil mengolah ampas tahu menjadi bistik dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. (DOK PRIBADI)

SLEMAN - Tahu jadi salah satu makanan yang sangat umum dan mudah ditemui, makanan yang berasal dari biji kedelai tersebut setiap pengolahannya memiliki sisa atau limbah yang disebut ampas.

Ampas tahu sering kali tidak terpakai atau terkadang digunakan masyarakat hanya sebagai makanan hewan ternak.

Selain itu, ampas tahu juga dapat diolah menjadi tempe gembus namun dengan nilai ekonomi di pasaran masih terbilang rendah.

Melihat fenomena tersebut, lima mahasiswa dari prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNY berinovasi.

Mereka adalah Geofina Kartika Putri, Siti Atika, Ayu Wulandari, Shifa Qulubina, dan Izza.

Mereka berinovasi meningkatkan nilai ekonomi ampas tahu menjadi olahan lain yang layak konsumsi dan memiliki nilai ekonomis lebih tinggi yakni bistik.

Geofina mengatakan, inovasi tersebut berawal dari salah satu anggota tim yang memang memiliki usaha tahu, ia melihat banyak ampas tahu yang dibuang begitu saja.

Dari keresahan tersebut, terciptalah inovasi ampas tahu menjadi makanan ringan bistik dengan nama Pastah Bistik.

"Salah satu anggota kami, Ayu, memiliki usaha tahu, kami lihat ampas tahu itu tidak digunakan lagi. Lalu kami berpikir membuat usaha untuk mengolah ampas tersebut dan kami berpikiran membuat bistik," katanya, Selasa (16/4).

Lebih lanjut, Geofina menjelaskan, bistik dari ampas tahu ini merupakan suatu hal yang cukup baru, karena umumnya bistik kebanyakan terbuat dari tepung.

"Kami lakukan beberapa kali percobaan yang gagal, akhirnya kami temukan campuran bahan yang pas, dan produk ini menjadi layak konsumsi," ungkapnya.

Ia berujar, hasil inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memanfaatkan dan mengolah ampas tahu menjadi produk-produk turunan yang lebih memiliki nilai jual.

"Walaupun sudah berupa sisa hasil olahan tahu, ampas tahu ternyata masih memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh," lontarnya.

Sementara, cara membuat bistik tersebut dengan menyangrai dahulu ampas tahu karena sifatnya basah dan mengandung banyak air.

Setelah itu, dicampur dengan bahan lain seperti gandum, tepung tapioka, dan bumbu-bumbunya.

Adonan tersebut dicampur sampai rata kemudian dicetak sesuai keinginan.

Setelah itu, adonan yang telah dicetak digoreng dengan minyak panas sampai matang yang ditandai dengan berubahnya warna menjadi kecokelatan.

"Orang mengira ampas tahu sudah tidak ada khasiatnya. Setelah kami riset, ampas tahu ternyata masih memiliki kandungan karbohidrat, protein, kalsium, dan zat lainnya yang berguna bagi tubuh," imbuh mahasiswi FIPP angkatan 2022 tersebut.

Lalu, ia juga menyampaikan, bahwa pastah bistik tersebut terbilang unik karena di luar sana belum ada yang membuat inovasi produk yang sama.

Ke depannya, ia berharap, dengan menjadi pionir dari inovasi olahan ampas tahu, diharapkan pula kalangan anak muda lainnya dapat memanfaatkan limbah ampas tahu menjadi produk olahan pangan vegetarian lain yang bermanfaat sehingga mengurangi tingkat pencemaran.

"Pastah Bistik juga dijamin menjadi cemilan yang awet. Bahan baku yang digunakan untuk membuat cemilan ini juga mudah didapatkan," tandasnya. (iza)

Editor : Amin Surachmad
#tahu #bistik #biji kedelai #UNY