RADAR JOGJA - Danau Maninjau adalah sebuah danau kaldera di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat, Indonesia.
Danau ini terletak sekitar 140 kilometer (87 mi) sebelah utara Kota Padang, ibu kota Sumatra Barat, 36 kilometer (22 mi) dari Bukittinggi, 27 kilometer (17 mi) dari Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam.
Litografi oleh F. C. Wilsen yang menggambarkan Danau Maninjau dengan harimau dan rusa (tahun 1865-1876)
Kaldera Maninjau terbentuk dari letusan gunung berapi yang diperkirakan terjadi sekitar 52.000 tahun yang lalu.
Endapan dari letusan telah ditemukan dalam distribusi radial di sekitar Maninjau memanjang hingga 50 kilometer (31 mi) ke timur, 75 kilometer (47 mi) ke tenggara.
Dan barat ke garis pantai saat ini, endapan tersebut diperkirakan tersebar di lebih dari 8,500 kilometer persegi (3,282 sq mi) dan memiliki volume 220–250 kilometer kubik (53–60 cu mi).Kaldera memiliki panjang 20 kilometer (12 mi) dan lebar 8 kilometer (5,0 mi).
Danau Maninjau merupakan sebuah danau berbentuk kaldera dengan ketinggian 459 meter di atas permukaan laut.
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik karena terbentuk dari letusan besar gunung api yang menghamburkan kurang lebih 220–250 km3 material piroklastik.
Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatra yang bernama Gunung Sitinjau.
Hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Kaldera Maninjau (34,5 km x 12 km) ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km (132 km2). Dinding kaldera Maninjau mempunyai 459 m dari permukaan danau yang mempunyai kedalaman mencapai 157 m.
Khusus flora, ditemukan pohon surian (Toona sureni), bayur (Pterospermum Javanucum), madang lilin (Litsea roxburghii) dan durian hutan.
Jenis lainnya hampir serupa dengan hutan lainnya di Sumbar, seperti, sapek (Macaranga Sp), kalek, baringin (Ficus Sp), kemiri (Aleurites moluccana), johar (Cassia sianya) dan maranti (Shorea Sp).
Beberapa tumbuhan langka dan dilindungi juga dapat ditemukan di lokasi itu, seperti bunga Rafflesia Tuan mudae, Rhizanthes Sp, Amorphophallus Sp, nepenthes atau kantong semar d
Bunga Rafflesia Tuan-mudae merupakan satu-satunya yang tumbuh di Indonesia dan pernah mekar sempurna dengan ukuran terbesar di dunia, rengan diameter 112 centimeter.
Tumbuhan langka dan dilindungi jenis bunga Rafflesia tuan-mudae yang mekar di dalam kawasan hutan Cagar Alam Maninjau di Jorong Marambuang Nagari Baringin Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Bunga cantik ini mekar dengan diameter besar yaitu 111 centimeter dan merupakan diameter terbesar yang pernah tercatat dan terdokumentasikan.
Pemantauan dan monitoring individu ini dilakukan oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Agam.
Dan pada hari Selasa tanggal 31 Desember 2019 bunga ini telah mulai pada fase mekar dengan terangkat dan terbukanya perigon atau kelopak bunga.
Uniknya, pada akhir tahun 2017 dilokasi dan inang yang sama juga mekar tumbuhan ini dengan diameter terbesar di dunia yang pernah tercatat dan terdokumentasikan yaitu mencapai 107 cm.
Jenis bunga ini pertamakali diketahui berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan BKSDA Sumatera Barat bersama dengan ahli dan peneliti bunga Rafflesia Dr. Agus Susatya dari Universitas Bengkulu pada akhir 2017 lalu.
Individu bunga akan mencapai posisi mekar sempurna bertepatan dengan tahun baru 2020 pada hari Rabu (01/01/2020). Dengan diameter yang mencapai 111 centimeter tersebut, tercatat sampai dengan saat ini merupakan yang terbesar yang pernah ada.
Di Cagar Alam Maninjau, beberapa jenis fauna pernah ditemukan, seperti, harimau sumatera, macan dahan, kijang, rusa, kambing hutan, siamang, beruang madu, kancil, burung rangkong, elang dan beraneka ragam jenis mamalia reptil dan burung lainnya.
Selain tempat flora dan fauna, fungsi penting lainnya dari Cagar Alam Maninjau merupakan daerah tangkapan air seluas 24.800 hektare, hulu 88 sungai ke Danau Maninjau dan 34 sungai mengaliri setiap tahun berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Jenis-jenis lain yang ditemukan tanda keberadaannya dalam kawasan adalah babi hutan (Sus scrofa), tapir (Tapirus indicus), kijang (Muntiacus muncak), Siamang (Hyllobates syndactylus), simpai (Presbytis cristata), tupai dahan (Sciurus notatus), Kera (Maccaca fascicularis), tikus buluh (Chiropodimys sp), tikus tanah (Rhizomys sumatraensis), Bengkarung (Mubaya multifasciata), dan musang (Paradoxorus hermaphroditus).
Editor : Bahana.