Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Alih Fungsi Jadi Museum Mosvia

Editor Content • Sabtu, 7 Januari 2023 | 18:09 WIB
BERSEJARAH: Gedung Mako Polres Magelang Kota bakal difungsikan sebagai Museum MOSVIA. Lantaran dulunya, gedung itu merupakan bekas sekolah saat pemerintahan Hindia Belanda.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
BERSEJARAH: Gedung Mako Polres Magelang Kota bakal difungsikan sebagai Museum MOSVIA. Lantaran dulunya, gedung itu merupakan bekas sekolah saat pemerintahan Hindia Belanda.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
 

 

RADAR JOGJA - Polres Magelang Kota berencana mengalihfungsikan Markas Komando (Mako) yang saat ini digunakan, menjadi museum. Lebih tepatnya, Museum Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA) atau Sekolah Pendidikan Pegawai Bumiputera.

Kapolres Magelang Kota AKBP Yolanda Evalyn Sebayang menuturkan, tahun ini bakal membangun mako baru. Bahkan, telah mendapat anggaran dan mengantongi izin dari Mabes Polri. "Dimana per Januari ini, semoga Polres Magelang Kota sudah bisa mulai dibangun," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Mako yang kini ditempati merupakan bangunan bersejarah dan masuk dalam kategori bangunan cagar budaya (BCB) yang dibangun sekitar tahun 1874. Pengalihfungsian ini atas inisiasi dari Yolanda agar dapat digunakan kembali dengan semestinya.

Nantinya, Mako itu bakal menjadi museum, khususnya berkaitan dengan sejarah Mosvia. Keberadaan museum itu, diharapkan dapat menjadi public area. Tentunya disertai penambahan kafe di sebelah gedung. Dengan begitu, harapannya, Alun-Alun Kota Magelang memiliki wajah yang lebih menarik.

Ditemui terpisah, Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menjelaskan, gedung Polres Magelang Kota semula merupakan hoofdenschool atau sekolah bagi calon pegawai Bumiputera yang dibuka pada 1878. Selain Magelang, hoofdenschool juga dibuka di Bandung, Probolinggo, dan Tondano.

Pendirian sekolah tersebut, bebarengan dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Belanda, yakni Politik Etis. Awalnya, pendidikan tersebut tidak bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat. Tetapi, memenuhi kebutuhan tenaga kerja rendah yang murah dan terampil.

Dia menceritakan, Kota Magelang termasuk menjadi pusat missie atau zending yang turut berpengaruh terhadap berdirinya sekolah-sekolah berorientasi barat. Dalam waktu yang hampir bersamaan, pemerintah Hinda Belanda juga membangun gedung Kweekschool Voor Inlandsche Ambtenaren atau sekolah calon guru untuk Holland Indische School (HIS).
Sekolah itu, lanjut dia, merupakan sekolah setingkat SD, tapi khusus untuk pribumi. "Gedung Kweekschool ini sekarang menjadi kantor Disdukcapil Kabupaten Magelang," sebutnya.

Menjelang tahun 1900-an, baik Hoofdenschool maupun Kweekschool ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda. Lantaran mutu pendidikan yang tidak memenuhi harapan. Namun, penyebab utamanya karena kekurangan tenaga guru.

Sebagai ganti Hoofdenschool, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Opleiding Schoolen Voor Indlansche Ambtenaren (OSVIA). Sebagai sekolah calon pamong praja pribumi. Sekolah tersebut menempati gedung bekas Kweekschool. "Tidak ada informasi terkait kegunaan bangunan hoofdenschool setelah ditutup," kata dia.

Masa belajar di OSVIA adalah lima tahun. Tapi, mulai 1908, masa belajarnya ditambah menjadi tujuh tahun. Umumnya, murid yang diterima berusia 12-16 tahun. Sedangkan pada 1927, Kweekschool dihidupkan kembali dan seluruh cabang OSVIA digabungkan menjadi MOSVIA yang berpusat di Magelang.

Tujuannya agar difokuskan dalam satu tempat. Sekolah ini juga tetap sama dengan OSVIA, yakni mendidik calon pamong praja pribumi. Tetapi, hanya lulusan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang merupakan sekolah setingkat SMP.

Bahkan, pada 1930-an, MOSVIA mencapai masa kejayaan. Lantaran ada beberapa tokoh masyhur yang pernah mengenyam pendidikan di sana. Termasuk Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, Adisucipto, hingga Urip Sumoharjo.

Gedung yang saat ini difungsikan sebagai Mako Polres Magelang Kota, memang menyimpan sejarah yang panjang. Bagus pun menyambut baik langkah Kapolres Magelang Kota yang bakal mengembalikan fungsi gedung Mako sebagai museum MOSVIA.

Menurutnya, langkah ini menegaskan kembali bahwa kawasan Alun-alun Kota Magelang menjadi situs budaya yang kompleks. "Kalau nantinya dibuat museum, perlu ditelusuri lagi dan lebih memperkuat bahwa rentetan sejarah MOSVIA ini tidak hanya sekadar omong kosong," tegasnya. (aya/bah) Editor : Editor Content
#MOSVIA