Inilah yang menginspirasi Gepeng Nugroho mengarang kisah Babad Tanah Mantyasih yang digelar tiap hari jadi Kota Magelang diperingati.
Dikisahkan, sebuah wilayah menjadi tempat strategis untuk transit orang-orang dari Jawa bagian timur. Mereka hendak melakukan ritual di sepanjang pegunungan Dieng sampai Sindoro.
Di wilayah yang kini bernama Kota Magelang itu terjadi akulturasi budaya dan interaksi dengan warga setempat. Perekonomian di wilayah itu pun menjadi makmur. Namun kondisi itu tidak berlangsung sama semenjak kedatangan gerombolan pengacau 'Kecu Brandal Rampok' yang mengusik ketenangan masyarakat. Keadaan berubah chaos, keamanan dan kestabilan terganggu.
Lalu muncul tokoh-tokoh yang membentuk kekuatan secara mandiri. Kekuatan itu mampu membasmi para pengacau, sehingga ketenangan masyarakat dapat direbut kembali. Melihat fenomena itu, Ratu Dyah Belitung, sang penguasa tanah Jawa kala itu, memberikan kemerdekaan kepada wilayah itu dengan membebaskan semua tanggungan upeti atau pajak.
Hari Jadi Kota Magelang ditetapkan oleh Wali Kotamadya Kepala Daerah Tingkat II Magelang Bagus Panuntun. Penetapan ini diresmikan pada 16 Juni 1989. Sejak saat itulah Hari Jadi Kota Magelang dirayakan tiap tahun. Terhitung sejak 11 April 907 sesuai tarikh yang terpahat dalam prasasti.
Sebelumnya, penetapan ini telah melalui kajian ilmiah yang dilakukan oleh Sukarto K Atmodjo yang disampaikan dalam seminar pada 24 September 1988. Ia memang sengaja mencari tanggal yang paling tua, bercermin pada penetapan daerah lain.
Misalnya hari jadi Kadiri (Kediri) yang ditetapkan pada tgl 25 Maret 804 M berdasarkan data prasasti batu Harinjing yang menyebut nama Kadiri. Lalu Hari jadi Ngawi ditetapkan pada tgl 7 Juli 1358 M yang berdasarkan data prasasti tembaga Canggu yang menyebut Ngawi sebagai naditirapradesa (desa di pinggir kali). (asa/din) Editor : Editor Content