YUWANTORO WINDUAJIE, Magelang
KATA “Taksaka” identik dengan nama sebuah kereta api kelas eksekutif. Tapi beda Taksaka di Kota Magelang. Ini merupakan komunitas yang beranggotakan para remaja. Yang peduli kebudayaan Jawa. Khususnya tentang seluk beluk aksara Jawa kuno. Atau lebih akrab disebut aksara Jawa Kawi.
Pagi kemarin (16/6) salah satu ruangan di Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Kota Magelang tampak ramai. Belasan orang berkumpul di situ. Mereka berkumpul bukan dalam rangka kunjungan museum. Tapi latihan menulis dan membaca tulisan Kawi. Gratis.
Satu-persatu peserta maju ke depan papan tulis. Bergiliran. Membawa spidol. Lantas menulis nama panggilan masing-masing. Di papan tulis itu. Tentu saja dengan huruf Kawi. Sesekali ada yang melirik kertas contekan. Kertas itu berisi table huruf Kawi.
Gunawan Agung Sambada menjadi pengisi materi pada sesi itu. Dia adalah seorang penggiat arkeologi. “Huruf Jawa modern terdiri atas 20 konsonan dan 5 vokal. Sedangkan huruf Kawi ada 33 konsonan dan 18 vokal,” jelasnya di hadapan anggota Taksaka dan peserta pelatihan menulis huruf Kawi.
Membahas aksara Kawi tak lengkap tanpa menceritakan sejarahnya. Proses latihan menulis Kawi pun terasa lebih semangat.
Menurut Gunawan, aksara Kawi pernah digunakan di wilayah maritim Asia Tenggara. Sekitar abad VIII hingga XVI Masehi. Huruf Kawi bisa dibilang sebagai “nenek moyang” aksara-aksara tradisional di Indonesia. Seperti di Jawa, Bali, dan Sunda.
Huruf Kawi memang tak mudah dipahami. Gunawan tak menampik hal itu. Apalagi jika sudah terangkai menjadi kata. Kata terangkai menjadi kalimat. Makin sulit dipahami. Namun bukan berarti hal itu tak bisa dipelajari. Hanya, memang butuh usaha keras dan dedikasi tinggi untuk menguasainya. “Semua tak ada yang instan untuk menguasai suatu hal,” tutur alumnus arkeologi Universitas Gadjah Mada itu.
Selain latihan menulis dan membaca, peserta pelatihan juga diajari menerjemahkan teks bahasa kawi. Dengan membedah kitab Adiparwa yang berisi penggalan epos Mahabarata. Maka jadilah suasana seperti di kelas mata pelajaran sejarah.
Satu per satu kalimat dan paragraf diterjemahkan. Beberapa peserta tampak sibuk mengintip kamus bahasa Jawa kuno yang telah disiapkan panitia. Kamus ini tebalnya 1.000 halaman. Memuat 25.000 kata, lengkap dengan cara bacanya. Plus arti dan terjemahan berbahasa Indonesia.
Sebelum membedah kitab Adiparwa Gunawan lebih dulu berbagi tips menerjemahkan bahasa Jawa kuno. Caranya dengan mencari dan memilah kata dasarnya terlebih dahulu. Lalu dicari imbuhannya. “Misalnya kata sajar. Kata dasarnya adalah ujar, artinya kata. Imbuhannya sa, menjadi sa-ujar, artinya berkata,” jelas pria yang juga menggeluti bisnis suvenir itu.
Cukup detail Gunawan menjelaskan seluk beluk bahasa Kawi. Semua itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Kepada Radar Jogja, dia mengaku prihatin dengan kalangan anak muda modern. Yang nyaris tak mengenal budaya sendiri. “Padahal bahasa Kawi merupakan warisan budaya bangsa. Merupakan bahasa ibu orang Jawa,” ujarnya diamini Andyan Ratnopama, anggota Taksaka.
Selain belajar bersama, kata Andyan, latihan rutin baca tulis huruf Kawi menjadi sarana upaya pelestarian peninggalan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. “Kegiatan ini rutin sebulan sekali. sudah berjalan tiga tahunan,” ungkapnya seraya mengupas ihwal asal usul Taksaka.
Komunitas itu terbentuk dari ketertarikan para anggota terhadap situs-situs budaya peninggalan sejarah. Seperti candi, kitab kuno, dan parasasti. Sebagian besar artefak sejarah mengandung bahasa Jawa kuno. Makanya mereka butuh mempelajarinya. Untuk lebih menghayati setiap situs budaya.
Dari situ terpintas pemikiran untuk mendirikan sebuah komunitas pelestari tulisan Jawa kuno. Maka terbentuklah Taksaka. Nah, lewat kegiatan rutin itu mereka ingin berbagi ilmu kepada orang lain. Agar turut termotivasi mendalami bahasa Jawa kuno. “Supaya kita dapat lebih memahami sejarah,” ucapnya.
Acara itu terbukti mampu mengundang ketertarikan. Budi Pawening, salah satunya. Dia baru pertama kali ikut pelatihan. “Temanya menarik. Saya penasaran dengan materinya,” ungkap warga Candimulyo, Kabupaten Magelang.(yog/zl) Editor : Editor News