Soetomo Dokter Pejuang, Pelopor Pergerakan
Pergerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara terorganisasi di Indonesia mulai 1908. Itu bersamaan lahirnya Boedi Oetomo yang dimotori para mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen ( STOVIA) yakni, sekolah kedokteran diperuntukan bagi keturunan pribumi. Pelopornya Dr Soetomo. Setelah lulus 1911 Soetomo mengabdikan ilmu kedokteran ke masyarakat miskin di pelosok Nusantara. Dari situ Soetomo merasakan penderitaan bangsanya dibawah penjajahan Belanda. Itu membuat Soetomo terpacu memerdekan bangsanya lewat perjuangan yang di-organisasi secara modern.
Bahari-Surabaya
REKAM jejak perjuangan Dr Soetomo dalam membebaskan bangsanya dari cengkeraman penjajah Belanda dapat dilihat di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Bubutan 85- 87 Surabaya.
Semua aktivitasnya dalam melopori pembentukan organisasi Boedi Oetomo, pengabdiaannya sebagai dokter pada rakyat jelata serta kiprahnya dalam pergerakan membebaskan bangsanya dari cengkeraman penjajah tersaji dalam foto, tulisan, dokumentasi yang di pajang di aula GNI.
Patung Dr Soetomo pun dijadikan mascot GNI karena jasanya sebagai pelopor pergerakan Indonesia sangat lah besar. Dr Soetomo lewat gerakan Boedi Oetomo dinilai sebagao tonggak, babak baru meletakan dasar perlawanan melalui organisasi modern terhadap penjajah Belanda. Maka, terbentuknya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 diperangati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Untuk mengenang jasa Dr Soetomo sekaligus mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga semangat kebangsaan, beragam foto aktivitas Dr Soetomo sebagai tokoh pergerakan Indonesia di pajang di aula GNI bersama tokoh pergerakan lainnya. Sampai ada uang kertas pecahan Rp 1000 bergambar wajah Dr Soetomo.
Sedangkan makam dr Soetomo berada di belakang GNI yang berbentuk joglo itu resik dan terawat. Warna putih mendominasi komplek makam.
Guna lebih mengenalkan siapa Dr Soetomo, bagaimana kiprah perjuanganya dalam masa pergerakan, pemkot Surabaya membuat museum Dr Soetomo. Letaknya di belakang samping kiri GNI.
.Bangunan museum berlantai dua didominasi warna putih itu diresmikan walikota Surabaya Tri Risma Harini pada 29 Nopember 2017. " Menyimpan 328 koleksi foto, dokumen dan peralatan dokter saat Dr Soetomo masih berpraktik sebagai dokter di pelosok Nusantara," kata Ardi, dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkot Surabaya yang bertugas pemandu pengunjung kepada penulis Minggu pagi (6/5/2018).
Lantai satu berisi puluhan bahkan ratusan foto, dokumen terkait pergerakan Dr Soetomo. Diawali foto pendirian Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei, kegiatan perkumpulan, partai, kongres , perjalanan Soetomo ke luar negeri selama setahun untuk studi banding, foto Dr Soetomo selama di Belanda, foto keluarga dan istri Dr Soetomo yang warga Belanda bernama E. Burning. Ada repro peta yang digunakan Dr Soetomo sebagai panduan melaksanakan tugas dan pengabdian.
Foto foto pemakaman istri Dr Soetomo yang dikubur di Kembang Kuning. Juga foto pemakaman Dr Soetomo yang dijubeli warga Surabaya. Mulai berangkat dari RS Simpang sampai di pekuburan komplek GNI . Gambar dan fotonya sangat lengkap.
Sampai mesin stensil mencetak majalah Penjebar Semangat yang mewadahi pemikiran tokoh pergerakan sekaligus menyebarkan gagasan, tulisan mereka kepada anggota pergerakan. Dr Soetomo sebagai pengelolanya juga dikenal piawai menulis artikel terkait kebangsaan. "Majalah Penjebar Semangat sebagai alat perjuangan Dr Soetomo sampai sekarang masih eksis," kata Ardi seraya menunjukan majalah berbahasa Jawa terbitan April 2018 itu.
Lantai dua berisi beragam alat alat kodokteran sampai ruang praktek Dr Soetomo saat bertugas di RS Centrale Burgelieke Ziekeninrichting (CBZ) Simpang Surabaya. Kini, lokasi itu jadi pusat perbelanjaan Plaza Surabaya. Sedangkan RS Simpang kini berubah RS Dr Soetomo Karangmenjangan Surabaya.
Ada baju dinas putih putih, tas, teteskop, peralatan bedah dan beragam alat kedokteran lainnya. Semua dipajang secara apik. Ada satu set meja kursi jati sebagai ruang tamu Dr Soetomo. Juga ada foto istri Dr Soetomo seorang noni Belanda.
SEjarah mencatat, setelah kelahiran Boedi Oetomo banyak muncul organisasi perlawanan serupa terhadap penjajah yang terilhami BO. Sebut saja Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan H Saman Hoeddhi tahun 1911 di Solo. Oleh Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam (SI) tahun 1912,. Tujuanya, memperluas keanggotaan. Tidak hanya terbatas pedagang tapi semua lapisan masyarakat yang konsen berjuang membebaskan bangsanya dari penjajah bisa masuk menjadi anggota SI.
Seperti apa sosok Dr Soetomo yang begitu brilian menggulirkan perlawanan terhadap penjajah lewat organisasi modern samacam Boedi Oetomo (BO). Dimana kelak BO meng-ilhami para tokoh pergerakan Indonesia lainya membentuk organisasi serupa dengan tujuan sama; memerdekankan bangsanya dari penjajah Belanda.
Dari berbagai sumber dihimpun penulis menyebutkan, Dr. Soetomo yang terlahir dengan nama Soebroto kelak biasa disapa Pak Tom itu lahir 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jatim.
Ia putra Raden Suwaji, bangsawan menjabat wedana di Maospati, Madiun. Soetomo dibesarkan di keluarga berkecukupan, terhormat dan sangat dimanjakan. Kakek Soetomo, R Ng Singawijaya atau KH Abdurakhman sangat disegani dan ternama di Nganjuk itu sangat memanjakan Soetomo.
Pada usia 8 tahun orang tuanya menitipkan Soebroto kepada pamannya Arjodipuro. Di tempat ini Soebroto didaftarkan di sekolah Belanda, Europeesche Lagere School (ELS). Namun tidak diterima. Pamannya tidak berputus asa. Esoknya beliau kembali mengajak Soebroto didaftarkan lagi ke sekolah. Ajaib! Soebroto diterima namun harus pakai nama baru Soetomo. Sejak itulah nama Soebroto berganti Soetomo.
Di sekolah Soetomo tergolong pintar. Karena itu, ia disegani temannya Indonesia maupun Belanda. Bahkan gurunya seorang Belanda juga menyayanginya.
Lulus ELG terjadi tarik menarik ayah Soetomo dengan sang kakek. R Suwaji ingin Soetomo masuk STOVIA, sedangkan R Ng Singawijaya menginginkan Soetomo masuk sekolah pangreh praja.
Soetomo akhirnya memilih sekolah kedokteran (STOVIA)yang diperuntukan bagi keturunan pribumi. Alasannya, ia tidak suka melihat ayahnya pangreh praja merunduk, disuruh-suruh Belanda.
Keputusan berani saat usianya menginjak 15 tahun itu, membawa Soetomo ke Batavia. 10 Januari 1903, Soetomo resmi menjadi siswa STOVIA
Saat menuntut ilmu di STOVIA, Soetomo menerima telegram pada 28 Juli 1907. Isinya, mengabarkan ayahnya meninggal. Kejadian itu membawa kesadaran pada sikap dan pemikirannya Soetomo di kemudian hari. Setelah matang, ia bertemu dr. Wahidin Sudirohusodo yang kelak mengubah jalan hidupnya. Figur Wahidin yang begitu nasionalis saat itu datang ke Batavia khusus menemui para pelajar STOVIA dan memberikan ceramah. Intinya, Dr Wahidin menggugah para pemuda untuk memajukan pendidikan sebagai jalan membebaskan bangsa dari penjajahan. Cara yang akan ditempuh menurut gagasan dr Wahidin adalah mendirikan Studie Fond (Dana Bea Siswa).
Wahidin juga menekankan perlunya pemuda membebaskan bangsanya dari penjajah begitu membekas pada diri Soetomo yang kelak mempengaruhi sikap dan pola pemikirannya dalam dunia pengerakan yang digelutinya. Tekadnya membela kaum lemah makin menggebu.
Pendangan tokoh lain yang berpengaruh terhadap Soetomo muda adalah dr. Douwes Dekker. Dowes Dekker lewat surat kabar saat itu mengkritik secara terbuka pemerintah Hindia-Belanda yang bertindak sewenang-wenang terhadap kaum pribumi. Kenyataan itu mempercepat munculnya pergerakan nasional yang kemudian melahirkan Boedi Oetomo.
Maka, 20 Mei 1908, saat Soetomo yang masih berstatus mahasiswa kedokteran STOVIA mendirikan Boedi Oetomo. Soetomo dibantu rekannya Gunawan, Suraji dibantu Suwardi Surjaningrat, Saleh, Gumbreg, dan lain-lain. Soetomo diangkat sebagai Ketua BO.
Tujuan perkumpulan untuk memajukan nusa dan bangsa lewat pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan guna mencapai kehidupan berbangsa yang terhormat.
Tak butuh waktu lama, Boedi Oetomo dalam waktu singkat telah memiliki banyak anggota dan membuka kantor cabang di Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Magelang dan daerah lainya di Indonesia.
Kongres BO pertama digelar di Yogyakarta pada 5 Oktober 1908 menghasilkan susunan kepengurusan BO. Tirtokusumo yang saat itu menjabat Bupati Karanganyar terpilih sebagai Ketua BO, Wahidin Sudirohusodo (dokter Jawa) sebagai wakil ketua; Dwijosewoyo dan Sosrosugondo (Keduanya guru Kweekschool), penulis; Gondoatmodjo (Opsir Legiun Pakualaman), bendahara; Suryodiputro (Jaksa Kepala Bondowoso), Gondosubroto (jaksa kepala Surakarta), dan Tjipto Mangunkusumo (dokter di Demak) sebagai komisaris.
Setelah lulus dari STOVIA tahun 1911, Dr Soetomo ditugaskan ke Semarang, lalu ke Tuban, pindah lagi ke Lubuk Pakam (Sumatera Timur) dan akhirnya ke Malang. Saat bertugas di Malang, ia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan.
Saat diperbantukan di RS Blora, Jateng yang merupakan rumah sakit zending, Soetomo bertemu Noni Belanda E. Burning seorang juru rawat. Soetomo akhirnya menikahi.
Soetomo banyak memperoleh pengalaman batin terkait seringnya berpindah tempat tugas. Diantaranya, makin banyak mengetahui kesengsaraan rakyat dan bisa membantu mereka.
Dr. Soetomo benar benar mendedikasikan ilmu medisnya kepada rakyat kecil. Saat itu, keberadaan dokter pribumi sangat langka. Rakyat tidak mampu berobat ke dokter karena sangat mahal. Hanya orang Belanda mampu berobat ke dokter.
Dr. Soetomo dikenal dokter sukarela. Dia mendedikasikan hidupnya untuk rakyat Indonesia. Ia bersedia dipanggil kapan pun tak peduli tengah malam. Tidak dibayar pun tidak masalah. Bahkan untuk rakyat miskin Soetomo menggratiskan semua biayanya.
Kemudian ia memperoleh kesempatan memperdalam pengetahuan di Belanda tahun 1919. Jiwa nasionalis Dr Soetomo makin terasah saat bertemu dan berdiskusi dengan tokoh pergerakan menuntut ilmu di Belanda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Yakni, perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda. Ada, Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, Ali Sastroamijoyo, Sunario, Iwa Kusuma Sumantri, dan Nazir Pamuncak
Sepulangannya dari Belanda tahun 1923, Soetomo menjadi guru sekolah dokter NIAS di Surabaya. Juga menjadi anggota Dewan Kota di Surabaya. Tingkat kesejahteraan jkelaurga Dr Soetomo membaik. Soetomo juga bertugas di RS Centrale Burgelijke Ziekeninriching Simpang Surabaya yang kini berubah RS Dr Soetomo Karangmenjangan.
Sekembalinya di tanah air, ia melihat kelemahan yang ada pada Boedi Oetomo. Waktu itu sudah banyak berdiri partai politik. Karena itu, ia ikut giat mengusahakan agar Boedi Oetomo bergerak di bidang politik dan keanggotaannya terbuka buat seluruh rakyat.
Namun sebagaian anggota BO tidak setuju. Akhirnya, Dr Soetomo tahun 1924, mendirikan Indonesische Studie Club (ISC) yang merupakan wadah bagi kaum terpelajar Indonesia.
ISC berhasil mendirikan sekolah tenun, bank kredit, koperasi, dan sebagainya untuk membantu rakyat kecil secara nyata. Pada tahun 1931 ISC berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Di bawah kepemimpinan Dr Soetomo, PBI berkembang pesat.
Di tengah kesibukanya memperjuangkan pembebasanbangsanya dari penjajah, Soetomo kehilangan perempuan yang dicintainya. Istrinya, E. Burning meningal dan dimakamkan di TPU Kembang Kuning, Surabaya.
Sementara itu, tekanan dari Pemerintah Kolonial Belanda terhadap pergerakan nasional semakin keras. Lalu Januari 1934, dibentuk Komisi untuk menyatukan visi BO-PBI. Akhirnya kemudian disetujui kedua pengurus-besarnya pertengahan 1935 untuk berfusi. Kongres peresmian fusi sekaligus kongres terakhir BO, melahirkan Partai Indonesia Raya atau disingkat PARINDRA, berlangsung 24-26 Des 1935 di Solo. Dr Soetomo diangkat menjadi ketua. Parindra berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.
Selain bergerak di bidang politik dan kedokteran, dr. Soetomo juga aktif di bidang kewartawanan. Ia bahkan memimpin beberapa buah surat kabar. Salah satunya majalah Penjebar Semangat berbahasa Jawa yang sampai sekarang masih eksis.
Pada Maret 1936, dr. Soetomo mengadakan perjalanan ke luar negeri. Soetomo ingin mempelajari model dan sistem ketatanegaraan yang dikunjungi untuk dipelajari guna diterapkan untuk kemajuan Indonesia.
Perjalanan dr. Soetomo cukup panjang, setahun lamanya. Ke Timur Tengah, Asia, Eropa bahkan ke Mesir menemui mahasiswa Indonesia yang kuliah di Al Azhar, Kairo .
Setelah dr. Soetomo sampai di Indonesia, Parindra mengadakan kongres yang pertama di Jakarta pada Mei 1937. Dalam kongres itu dr. Soetomo dipilih kembali menjadi ketua umum Parindra. Bersama pengurus pusat, ia mengadakan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia untuk kepentingan partai dan kepentingan nasional.
Akibat kesibukan dan pekerjaan terlampau berat, dr. Soetomo jatuh sakit..
Pada 3 Mei 1938, sakit dr. Soetomo terlalu parah dan akhirnya meninggal dalam usia 50 tahun. Jenazahnya dimakamkan di halaman Gedung Nasional Surabaya.
Seluruh penduduk Kota Soerabaia tumpah ruah di Jl.Bubutan. Maka , jalan sekitar Jalan Bubutan berubah jadi lautan manusia.
Suara dzikir dan kalimat Allah... Laa ilaaha illallaah .. sahut menyahut dari ribuan pelayat mengantar kepergian putra bangsa terbaik ke peristirahatannya terakhirnya. Perjuangan Dr Soetomo tidak sia sia. Setelah tujuh tahun kematiannya, Bangsa Indonesia diwakili Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada, 17 Agustus 1945. Merdeka! (Bahari/Bersambung)
Editor : Editor News