SLEMAN – PSS Sleman memberikan jatah libur 10 hari kepada para pemain, namun jeda ini sepenuhnya diarahkan sebagai masa maintenance fisik, bukan waktu untuk berhenti berlatih.
Meski skuad Super Elang Jawa mendapat waktu rehat usai laga berat melawan Deltras Sidoarjo, Sabtu (22/11), tim pelatih menegaskan bahwa aspek kebugaran tetap menjadi prioritas utama.
Pelatih PSS Sleman Ansyari Lubis menekankan, libur panjang justru menjadi periode penting untuk menjaga stabilitas kondisi fisik pemain.
Ia memastikan setiap pemain pulang membawa program latihan khusus yang disusun pelatih fisik.
"Selama liburan, pemain tetap menjalankan program yang sudah diberikan. Itu wajib untuk menjaga level kebugaran," ujar Uwak, Rabu (26/11).
Menurutnya, program individual tersebut mencakup latihan kardio ringan, penguatan otot, mobilitas, dan rutinitas menjaga intensitas agar tidak terjadi drop saat tim kembali berlatih.
Uwak menegaskan bahwa jeda panjang tanpa pengawasan langsung tidak boleh membuat kebugaran pemain menurun. "Tujuan kami, saat tim kembali berkumpul, kondisi fisik pemain tetap stabil dan tidak anjlok," tegasnya.
Manajemen resmi meliburkan tim sejak 24 November hingga 3 Desember. Namun, secara teknis para pemain tetap berada dalam masa latihan mandiri terstruktur.
Libur fisik total justru dihindari karena dalam pertandingan terakhir melawan Deltras, para pemain harus bekerja dengan intensitas tinggi dalam duel, transisi, dan pressing.
Selain untuk pemulihan, periode jeda kompetisi selama satu bulan ini menjadi kesempatan mengatur ulang beban latihan agar siklus fisik pemain kembali ideal.
Program off-training tetap dipantau agar pemain kembali pada 4 Desember dengan kondisi siap masuk fase latihan intensif berikutnya.
"Kami juga akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk dari sisi fisik, karena masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki," tutur Uwak. (ayu/pra)
Editor : Heru Pratomo