KULON PROGO - Dinas Kesehatan Kulon Progo mencatat ratusan orang terjangkit HIV/AIDS di tahun 2024.
Data update Desember 2024, jumlah kumulatif orang dengan HIV/AIDS ada 296.
Temuan HIV AIDS 2023 mencapai 54 kasus, sedangkan pada 2024, angkanya sedikit menurun menjadi 49 kasus.
Selain itu, terdapat kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang meninggal dunia akibat telat terdeteksi.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Sri Budi Utami menyampaikan, pihaknya mendapati kasus ODHA yang terlambat penemuannya.
Sehingga beberapa kasus itu, berujung kematian pada penderita HIV/AIDS.
"Fase terlambat saat penemuan, sehingga tahun 2024 terdapat 8 kasus meninggal dunia," ucap Budi, Kamis (27/2/2025). Kendati begitu angkanya lebih sedikit dibandingkan pada 2024, jumlah kematian HIV AIDS mencapai 10 orang.
Budi menyampaikan, keterlambatan identifikasi penularan HIV sangat mungkin terjadi. Lantaran, kasus HIV AIDS bagaikan gunung es. Terlihat kecil di permukaan, namun menyimpan potensi besar yang tak terlihat.
Fenomena gunung es dapat terjadi, karena penemuan populasi kunci belum berjalan dengan optimal.
Terutama populasi laki-laki suka laki-laki (LSL), wanita pekerja seks (WPS), dan pecandu napza metode suntik.
Selain belum ditemukan rumus mencari populasi kunci, kasus HIV diperparah dengan meningkatnya faktor resiko penularan.
Lantaran, Kulon Progosemakin bertumbuh pesat. Mengakibatkan mobilitas masyarakat semakin tinggi.
Terlebih munculnya tempat hiburan malam yang berpotensi sebagai sarang penularan HIV.
"Temuan terbanyak di Kapanewon Wates yang merupakan pusat kota," ungkapnya.
Budi menyampaikan, ratusan orang di Kulon Progo terjangkit HIV.
Sedangkan, penderita yang telah mencapai tahapan AIDS mencapai 74 oeang.
Data tersebut merupakan hasil temuan hingga Desember 2024.
Dari segi statistik, tak ditemukan fenomena kenaikan penularan HIV.
Akan tetapi, Dinas Kesehatan Kulon Progo berupaya mencegah penularan HIV.
Hal ini diwujudkan dengan Komis Penanggulangan Aids (KPA).
Pembentukan lembaga ini, berfokus untuk sosialisasi gaya hidup sehat dan pendampingan penderita.
"Upaya screening juga dilakukan, agar penanganan dapat dilakukan sejak dini," ungkapnya.
Budi menyampaikan setiqp puskesmas memiliki fasilitas screening HIV AIDS.
Tujuannya, agar dapat emndeteksi penularan HIV sejak tahap awal.
Alhasil, HIV dapat dicegah untuk naik tingkatan menjadi AIDS. Sekaligus mencegah penukaran semakin meluas. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva