RADAR JOGJA - Dewasa ini produk-produk kesehatan semakin menjamur.
Maraknya suplemen kesehatan, minuman yang mengandung elektrolit, hingga beragam produk detoksifikasi, membuat kita mulai melupakan suatu hal paling mendasar, yaitu air putih.
Ternyata, bagi sistem urine–ginjal, ureter, hingga kandung kemih–air memiliki manfaat bukan sekadar kebutuhan saja, melainkan sebagai fondasi utama kesehatan.
Berlainan dengan itu, orang-orang, khususnya anak muda hari ini cenderung mulai melupakan air putih.
Banyak di antara mereka yang lebih memilih minum kopi, teh, minuman manis, minuman bersoda, hingga minuman berperisa, ketimbang minum segelas air putih.
Padahal, minum air putih dengan cukup merupakan cara paling gampang, murah, dan efektif dalam menjaga kesehatan tubuh.
Salah satu organ yang paling bekerja keras adalah ginjal.
Organ ini terus bekerja dalam menyaring darah dan membuang residu melalui urin.
Supaya proses ginjal berjalan optimal, maka asupan cairan tubuh haruslah terpenuhi.
Apabila tubuh kekurangan cairan, urin akan berwarna pekat, kemudian konsentrasi mineral akan meningkat.
Sehingga, hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya pembentukan batu ginjal.
Pembentukan batu ginjal dapat dikenali dengan tanda-tanda, awal mulanya akan mengalami nyeri hebat pada pinggang, mual, muntah, hingga gangguan nyeri pada kemih.
Kekurangan air putih juga berpengaruh terhadap menurunnya intensitas buang air kecil.
Akibatnya, bakteri memiliki waktu lebih banyak untuk berkembang biak di dalam saluran kemih.
Inilah penyebab utama peningkatan resiko infeksi saluran kemih, terutama pada wanita.
Karena, setiap kali seseorang buang air kecil maka ia juga turut membilas bakteri pada saluran urin tersebut.
Tak jarang, kita menjumpai para pekerja yang sengaja mengurangi minum air putih dengan alasan supaya tidak terlalu sering ke toilet.
Guru, tenaga medis, sopir, hingga pekerja kantoran merupakan kelompok yang rentan mengalami kondisi dehidrasi kronik ringan.
Nahasnya, kebiasaan semacam ini dianggap sepele dan dibiarkan bertahun-tahun tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.
Kebutuhan cairan pada masing-masing individu berbeda, tergantung pada usia, aktivitas, kondisi medis, dan lingkungan.
Namun, secara umum terdapat anjuran, yakni sekitar 2 liter atau 8-10 gelas per hari masih menjadi patokan yang sering diikuti.
Selain itu, juga terdapat cara untuk mendeteksi kebutuhan cairan, yaitu dengan melihat warna urin.
Urin dengan warna jernih hingga kuning muda menunjukkan kadar cairan yang cukup, sedang warna kuning tua hingga kecoklatan merupakan tanda-tanda dehidrasi.
Maka dari itu, minum air putih bukan sekadar untuk menghilangkan dahaga, melainkan bentuk kepedulian terhadap tubuh yang telah bekerja keras setiap hari.
Dari kebiasaan sederhana ini kita mulai belajar bahwa hidup sehat tak harus mahal, kadang perlu dimulai dengan satu tegukan air putih. (Ahmad Yinfa Cendikia)
Editor : Meitika Candra Lantiva