RADAR Jogja - Fenomena ekspresi perilaku, atau “fleksibilitas”, telah menjadi bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan digital di era media sosial.
Aktivitas ini melibatkan seseorang yang menampilkan kemewahan, prestasi, atau gaya hidupnya melalui berbagai postingan online.
Dari sudut pandang psikologis, liuk merupakan hal yang sangat menarik, menimbulkan pertanyaan tentang motivasi, dampak, dan kesehatan mental individu yang terlibat.
Flexing adalah istilah populer untuk orang yang suka mengekspresikan diri atau pamer.
Biasanya hal ini melibatkan kesombongan untuk menunjukkan bahwa status sosial lebih menarik bagi orang lain.
Dewi Ilma Antawati, guru besar psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan fenomena penggunaan jejaring sosial merupakan perilaku naluriah dalam membangun hubungan.
Misalnya burung merak yang memamerkan ekornya yang indah untuk menarik perhatian lawan jenis.
Dalam psikologi sosial, orang yang memamerkan miliknya dapat menunjukkan status sosialnya, ingin menjadi lebih menarik di mata orang lain untuk memperluas lingkaran pergaulannya.
Sementara itu, psikolog Indah Sundari Jayanti menjelaskan bahwa flexing menunjukkan kebutuhan individu untuk bertahan hidup.
Selain itu, kehadiran dunia digital, termasuk jejaring sosial, juga mempengaruhi perilaku tersebut sebagai standar evaluasi pribadi.
Flexing dapat menjadi masalah jika Anda menyakiti orang lain, menampilkan citra diri Anda yang sangat berbeda, dan merasa tidak nyaman jika Anda tidak membagikan atau memberi tahu orang lain apa yang Anda miliki
Editor : Bahana.