Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasang Gejlik, Tinggikan Satu Sisi Jalan, dan Buat Sumur Resapan

Editor Content • Jumat, 14 Oktober 2022 | 14:49 WIB
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Banjir kerap terjadi kala musim penghujan mengguyur Kota Jogja. Namun warga yang tinggal dan tumbuh di kota istimewa ini, masih ada yang bertahan di bantaran sungai. Mereka beradaptasi dengan ancaman bencana. Inovasi pun dilakukan.Apa itu?

SITI FATIMAH, Jogja, Radar Jogja

Berada di bantaran kali, Kampung Purbonegaran, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja tertata rapi. Tidak ada lagi rumah yang mepet sampai bibir sungai. Ada jalan yang memisahkan kampung dengan kali. Nyaman untuk jalan kaki.

Tapi meski bersih, Kampung Purbonegaran merupakan kawasan langganan banjir. Ketua RT 50 RW XI Kampung Purbonegaran Suparno membenarkannya. Pria 70 tahun ini mulai tinggal di kampung tersebut sejak 1979.

Dia kemudian membeber, awal mula kampungnya jadi lokasi langganan banjir. Seingat Parno, sapaan akrabnya, dulu ada dua sungai yang ada di Terban. “Kalau mau main sepakbola di kampung, main di sana (ruang terbuka yang diapit Sungai Belik dan Sungai Mambu, Red),” ungkapnya pada Radar Jogja, Kamis (13/10).

Namun, keberadaan aliran Sungai Mambu ini makin tergerus seiring dengan pembangunan. Hingga akhirnya hilang menjadi jalan.“Dari utara POM bensin di timur Galeria, itu tadinya sungai sampai utara. Setelah ada pembangunan Galeria, ditutup. Sekarang tinggal satu sungai, Belik. Tiap hujan deras, pasti banjir,” imbuhnya.

Meski jadi langganan banjir, Parno enggan pindah dari rumahnya. Sebab rumah itu penuh memori, terutama bagi istrinya. Edi Winanti. “Rumah ini peninggalan dari keluarga istri saya. Dulunya rumah ini rumah panggung, terus sekarang dibuat jadi permanen,” bebernya.

Kendati begitu, karakter rumah panggung tetap tampak di kediaman Parno. Untuk masuk rumah, dia harus menaiki beberapa anak tangga. Teras rumah Parno pun lebih tinggi sekitar 50 sentimeter dari permukaan jalan. “Nah, depan pintu rumah, saya pasangi gejlik buat menahan banjir,” jelasnya.

Gejlik adalah papan bongkar pasang yang diletakkan depan pintu rumah. Hampir setiap rumah di Kampung Purbonegaran memasangnya. Jika pun tidak, kemungkinan rumah berada di dataran yang cukup tinggi. Atau, membangun penghalang permanen di depan pintu rumahnya. “Tapi, lebih bagus pasang gejlik dibanding permanen. Soalnya air kalau naik tinggi, juga tetap masuk ke rumah. Itu malah repot mengeluarkan airnya nanti,” jabarnya.

Kakek dua cucu ini juga mengerahkan warganya untuk secara swadaya menanggulangi banjir. Mereka mengumpulkan dana untuk meninggikan permukaan jalan di sisi utara yang dekat dengan aliran Sungai Belik. “Kami cuma mampu meninggikan bagian itu saja, karena keterbatasan dana. Tapi kalau tetap masuk airnya ke jalan gang ini, ya nanti saya akan minta ditinggikan lagi,” sebutnya.
Selain itu, warga pun membuat sumur-sumur resapan. Metode ini sebetulnya memiliki dua fungsi. Selain menampung luapan air sungai, juga jadi pengisi sumur-sumur warga. “Dulu sebelum ada ini, sumur-sumur kami kering,” ujarnya.

Kembali membahas terkait banjir, beberapa waktu lalu Parno menolong seorang ojek online (ojol). Pengemudi itu hanyut terseret aliran Sungai Belik. “Dia tolong-tolong, terus saya bantu pakai tali, dia selamat. Motornya ditemukan di embung,” kenangnya.
Terkait dengan penanggulangan banjir dari pemerintah, Parno mengungkap, ada wacana untuk dilakukan pelebaran sungai. Parno bahkan mengikuti perkembangan diskusinya di Kelurahan Terban. “Tapi nanti ada pemangkasan tiga meter dari sisi-sisi sungai. Ya….,” ucapannya tidak dilanjutkan.

Saat berbincang, Parno memanggil seorang warganya yang kebetulan melintas. Pria 50 tahun itu kemudian mendekat dan juga menceritakan metode penanggulangan banjir yang dilakukannya. “Kalau di rumah saya, masuknya air banjir dari saluran pembuangan. Biasanya saya sumpal, supaya air tidak tambah tinggi,” tandasnya. (pra)

 

  Editor : Editor Content
#Jogja