SITI FATIMAH, Jogja, Radar Jogja
Mata seorang perempuan terbalut rapat kacamata virtual reality (VR). Kedua tangannya menggenggam augmented reality (AR). Seorang perempuan lainnya membantu menggunakan kedua perangkat digital itu. Untuk dapat menikmati panorama di kawasan Tugu Jogja pada masa lalu.
Tugu Jogja merupakan salah satu titik penting dalam sumbu filosofis. Rangkaian garis imajiner ini lurus terhubung dengan Pantai Parangkusumo di sisi selatan DIJ. Sementara pada sisi utara, terhubung dengan Gunung Merapi.
Iris berbahagia, berkesempatan bisa menjelajah ruang dan waktu sumbu filosofis. Sebuah perjalanan yang mengesankannya. “Menyenangkan dan bermanfaat untuk mengenal simbol filosofis yang ada di Jogja,” ucapnya, usai mencoba penerapan VR dan AR di Tugu Jogja dalam rangkaian Heritage Week kemarin (5/9).
Perempuan yang kesehariannya berprofesi sebagai tour guide ini mengaku baru pertama kali mencoba VR dan AR. Dia mendapat informasi gelaran Heritage Week dari komunitas ibunya. Perjalanannya mengunjungi sumbu filosofis, diawali dari Panggung Krapyak. “Terus ke sini naik motor,” ungkapnya.
Wulan yang merupakan pemandu Heritage Week mengungkap bahwa kegiatan yang dilaksanakannya merupakan agenda dari Kami Muda Kreatif (KMK). Lembaganya merupakan bimbingan UNESCO dan Citi Foundation. “Kegiatan ini sudah berjalan selama lima hari, tanggal 1-5 September,” bebernya.
Dikatakan, kegiatan ini bertujuan sebagai pembelajaran tentang sumbu filosofis. Pengkisahan dituturkan pada peserta dengan menyentuhkan circle life atau dalam istilah Jawa, dikenal dengan sangkan paraning dumadi. “Dari mana kita berasal dan dari mana kita kembali,” lontarnya.
Disebutkan, ada 50 peserta yang mengikuti kegiatan yang digelarnya. Namun peserta dibagi dalam beberapa grub atau kloter. Masing-masing kloter terdiri dari 6-7 orang dengan latar belakang beragam. “Latar belakang peserta umum, mulai dari dosen, guide, dan lainnya,” sebutnya.
Wulan berharap, kegiatan yang turut mendapat sokongan dari Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ ini dapat menggencarkan pengetahuan tentang sumbu filosofis. Lantaran dia berharap, sumbu filosofis ini dapat ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO. “Dan setelah itu, masyarakat akan tahu tentang budayanya sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, Wulan mengaku prihatin. Masih ditemui masyarakat yang belum tahu sejarah Panggung Krapyak dan Tugu Jogja. “Tapi ketika sumbu filosofis masuk UNESCO, perlindungannya dan pemeliharaan akan lebih tertata. Salah satunya support dana juga untuk pembinaan dan biaya bangunan bersejarah,” tandasnya. (laz) Editor : Editor Content