JOGJA - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB DIY menargetkan kursi pimpinan pengurus partai bisa diduduki perempuan.
Hal tersebut sebagai bagian dari strategi untuk menggaet lebih banyak suara perempuan pada kontestasi pemilu maupun pilkada mendatang.
Ketua DPW PKB DIY Umaruddin Masdar mengatakan, total pengurus periode 2026-2031 sekitar 60 orang.
Setengah lebih anggota atau 53 persen merupakan perempuan.
"Saya kira DPW PKB DIY satu-satunya DPW yang Ketua Dewan Syuro-nya adalah perempuan," ujarnya dalam acara Perkenalan Pengurus, Penguatan Ideologi, dan Sosialisasi Muscab bersama DPW, DPC, DPAC dan Kader PKB se DIY yang digelar di Jogja, Minggu (1/3/2026).
DPW PKB DIY juga akan membuat gebrakan baru yakni memprioritaskan perempuan untuk mengisi posisi ketua DPC, DPAC dan Kader PKB DIY.
Ini sesuai arahan DPP, terlebih pada kontestasi pemilu 2029 disebut pertarungan yang sangat kuat.
"Terutama memperebutkan suara perempuan dan anak-anak muda. Makanya kami banyak perempuan," bebernya.
Keputusan tersebut bukan tanpa dasar. Pihaknya telah mendalami dengan mengundnag beberapa ahli yang menyatakan bahwa perempuan merupakan pemilih yang loyal dan kuat.
Mereka memilih menggunakan hari dan jumlahnya pun terus meningkat.
"DPW PKB DIY memutuskan banyak mengusung kader perempuan atau pengurus perempuan," paparnya.
Pihaknya meminta semua DPC, DPAC dipimpin oleh perempuan ke depannya. Rencana tersebut akan dilaksanakan setelah Muscab DPC dalam waktu dekat ini.
Dirinya diperintahkan Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar untuk datang ke Jogja mewakili dirinya.
"Jadi Gus Muhaimin langsung memerintahkan saya, 'Kamu yang berangkat nih, karena 50 persen pengurus DPW DIY ini perempuan, jadi yang hadir harus perempuan dari DPP," ujarnya.
Dalam agenda tersebut juga disisipi doa bersama yang dipimpin Ketua DPW PKB DIY atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran yang gugur akibat serangan zionis Israel dan tentara AS.
Menurutnya, Imam Ali Khamaeni adalah simbol perlawanan dan penjaga martabat dan harga diri pemimpin Islam melawan kezaliman sistem global.
"Kematiannya sungguh menjadi duka yang mendalam dan kehilangan yang sangat mendalam bagi umat Islam dan masyarakat dunia yang memimpikan tata geopolitik global yang adil dan tanpa hegemoni," ucap Umaruddin Masdar. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita