Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkot Jogja Targetkan Prevalensi Stunting di Bawah Lima Persen lewat Pendekatan Tradisi Mitoni

Iwan Nurwanto • Sabtu, 15 November 2025 | 10:30 WIB
Ilustrasi anak stunting.
Ilustrasi anak stunting.

JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mematok target prevalensi stunting di bawah lima persen. Upaya ini dilakukan lewat pendekatan budaya melalui tradisi mitoni. Yakni upacara adat Jawa yang diadakan untuk menyambut kehamilan saat memasuki usia tujuh bulan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja Retnaningtyas mengatakan, mitoni bukan sekadar ritual budaya. Namun merupakan tradisi yang berkaitan erat dengan edukasi kesehatan.

Sebab, mitoni mengajarkan bagaimana ibu hamil harus menjaga kondisi kesehatannya. Selain itu, dalam prosesinya, ibu hamil juga mendapat dukungan keluarga agar bayi dilahirkan dalam kondisi sehat.

“Kalau edukasi hanya lewat selebaran atau media sosial kurang menarik,” ujar Retnaningtyas di sela Pendampingan dan Fasilitasi Ibu Hamil dan Pasca Salin di Balai Kota Jogja Kamis (13/11).

Pejabat yang akrab disapa Eno itu yakin, lewat pendekatan budaya, prevalensi stunting bisa turun hingga di bawah lima persen. Apalagi pihaknya juga sudah memiliki 495 tim pendamping keluarga (TPK) yang aktif mendampingi calon pengantin, ibu hamil, hingga anak balita.

Eno mengaku, pihaknya juga melakukan intervensi gizi yang menyasar ibu dan bayi. Yakni dengan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) dan balita berisiko stunting.

Adapun di tahun 2024 lalu Kementerian Kesehatan mencatat prevelansi stunting di 14,8 persen. Sementara Dinas Kesehatan Jogja mencatat, prevalensi stunting di angka 9,7 persen hingga Oktober lalu.

“Target ini (prevalensi stunting di bawah lima persen, Red) memang ambisius, tetapi kami yakin bisa tercapai,” katanya.

Dokter Spesialis Kandungan Fauzan Achmad Maliki pun membenarkan tradisi mitoni memiliki nilai-nilai edukasi gizi terhadap ibu hamil. Misalnya dari sajian dawet, rujak, dan tumpeng yang menggambarkan konsep edukasi gizi seimbang. “Budaya bisa berkolaborasi erat dengan dunia kesehatan untuk menyiapkan generasi yang sehat,” bebernya.

Sementara itu, Kader Posyandu Jahe 2 Kelurahan Tahunan Fransiska Estu Dwiyanti menyampaikan, penyelesaian stunting di tingkat wilayah masih menghadapi kendala. Terutama dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil.

 

Estu mengungkap, di wilayahnya ada sebagian ibu yang merasa sudah memiliki informasi tentang kecukupan gizi anak melalui internet. Sehingga sulit menerima masukan dari kader.

Selain itu, juga ada beberapa kasus ibu hamil yang menghadapi masalah KEK namun enggan untuk ditangani oleh kader posyandu. Yakni tidak mau datang pendampingan meskipun sudah diundang. “Ada juga ibu yang hanya mementingkan kenyang, sehingga gizi atau makanan bagi anak tidak diperhatikan,” jelas Estu. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kota Jogja #pendekatan budaya #prevalensi stunting #Pemerintah Kota (Pemkot) #Stunting #Jogja #mitoni