RADAR JOGJA - Dibandingkan lima jabatan eselon dua lainnya, posisi kepala Bappeda terhitung yang paling lama kosong. Sudah berlangsung selama hampir 15 bulan.
Setelah ditinggalkan Beny Suharsono yang promosi menjadi Sekprov DIY, jabatan kepala Bappeda dipercayakan kepada Tri Saktiyana. Namun statusnya pelaksana tugas (Plt). Sehari-hari jabatan Tri Saktiyana adalah asisten perekonomian dan pembangunan.
Kekosongan jabatan kepala Bappeda dalam waktu relatif lama seperti sekarang, baru kali pertama terjadi. Khususnya sejak Hamengku Buwono X menggantikan Paku Alam VIII sebagai gubernur DIY pada 3 Oktober 1998. Selama 25 tahun dari 1998 hingga 2023 tak pernah terjadi kepala Bappeda dijalankan Plt.
Itu terjadi mulai kepala Bappeda dijabat Soedjatmo 1995-2000. Soedjatmo yang kebetulan merupakan paman Beny Suharsono itu digantikan Achmad Zaim 2000-2001. Kepala Bappeda berikutnya Achmad Djunaidi 2001-2006.
Selanjutnya 2006-2009 dijabat Bayudono. Pengganti Bayudono dari 2009-2011 adalah Setyoso Hardjowisatro. Mulai 2011 sampai dengan 2018 dipegang Tavip Agus Rayanto. Kepala Bappeda berikutnya 2018-2020 Budi Wibowo. Dari 2020-2023 dijabat Beny Suharsono.
“Sepertinya pemprov kesulitan mencari sosok pengganti Pak Beny sebagai kepala Bappeda,” ujar Ketua Pansus Raperda Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) DIY 2025-2045 Muhammad Syafi’i Senin(8/7).
Selama hampir tiga bulan, Syafi’i sebagai pimpinan pansus berkutat dengan pembahasan RPJPD. Dalam setiap pembahasan dalam rapat kerja, leading sector atau instansi yang bertanggung jawab di antaranya Bappeda.
Seharusnya delegasi pemprov dipimpin Plt Kepala Bappeda Tri Saktiyana. Namun karen Tri Saktiyana tengah menjalankan ibadah haji, Plt kepala Bappeda kemudian ditarik ke atas. Dirangkap oleh Sekprov Beny Suharsono.
Lantaran kepadatan tugas, Beny kemudian mendelegasikan kepada Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Danang Setiadi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kurniawan serta Kabid Perencanaan Bappeda Sri Giyanti.
Syafi’i mengatakan, meski tak lagi bertugas di Bappeda, penyusunan dokumen RPJPD 2025-2045 telah dilakukan sejak setahun lalu. Danang dan Wawan, panggilan akrab Kurniawan, ikut mempersiapkan dokumen itu. Wawan merupakan Kabid Perencanaan Bappeda yang digantikan Danang. Setelah Danang menjadi kepala biro, penggantinya Sri Giyanti.
“Jadi sekarang saat dibahas di dewan, keduanya ditugaskan ikut raker dengan pansus, meski tak lagi bertugas di Bappeda,” ujarnya. Saat menyampaikan laporan di depan paripurna, Syafi’i menyampaikan sejumlah catatan. Di antaranya soal penurunan kemiskinan menjadi 0,16 persen hingga 0,66 persen. “Itu butuh perhatian khusus,” katanya.
Saat lelang jabatan kepala OPD pada akhir 2023 lalu, nama Danang dan Wawan sempat mencuri perhatian. Keduanya sejak awal sudah diprediksi lolos. Sebab, merupakan birokrat yang dipercaya Beny sejak sama-sama bertugas di Bappeda.
Beny sebagai kepala, Danang dan Wawan menjadi anak buahnya. Keduanya sejak lama dikenal sebagai Benys Boy’s. “Terbukti saat pembahasan RPJPD 2025-2045 keduanya diminta gabung. Itu bentuk kepercayaan,” bisik seorang sumber di Bappeda.
Di bagian lain, sumber yang dikenal dekat dengan kalangan Baperjakat mengungkapkan bocoran skenario pengisian jabatan kepala Bappeda. Ada kemungkinan akan diisi dengan pergeseran. Calon kuat yang disebut-sebut menjadi kepala Bappeda mengarah pada Ni Made Dwipanti Indrayanti yang sehari-hari menjabat kepala dinas perhubungan.
“Dalam waktu dekat ini Bu Made akan dilantik,” ceritanya. Mantan Pj bupati Kulon Progo itu pada 2023 telah mengikuti assessment. Hasilnya, alumnus Teknik Arsitektur UNS Surakarta itu dinilai memenuhi syarat mengemban jabatan kepala Bappeda. “Kalau Bu Made digeser otomatis ada pergeseran eselon dua lainnya,” lanjut sumber itu. (kus/laz)
Editor : Satria Pradika