Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Produsen Batik Jogja Kolaborasi dengan Perajin untuk Hadirkan Model Lebih Modern

Khairul Ma'arif • Rabu, 7 Februari 2024 | 22:13 WIB
BERKESAN: Kegiatan Melokal dengan Batik di Toko Batik Rianty Jalan Malioboro Selasa (6/2/2024).
BERKESAN: Kegiatan Melokal dengan Batik di Toko Batik Rianty Jalan Malioboro Selasa (6/2/2024).

JOGJA - Produsen batik Jogja melakukan kolaborasi dengan perajin batik dari sejumlah daerah. Itu bertujuan untuk menghadirkan model batik yang lebih modern.

Dengan begitu diharapkan memakai batik tidak melulu formal untuk acara resmi saja.

Produsen batik yang dimaksud adalah Batik Rianty yang dipimpin Aditya Suryadinata.

Dia menginginkan, batik tidak selalu berkesan tua sehingga membuat kalangan muda enggan memakainya.

Menurutnya, Rianty Batik bekerja sama dengan puluhan perajin batik dan desainer lokal dari Yogyakarta, Solo, dan sekitar Jawa Tengah untuk menghadirkan desain atau sketsa handmade.

Dia mengaku, lambat laun, batik sekarang diproduksi dengan desain lebih modern dan bisa dipakai acara santai.

Keinginan terbesarnya mengubah persepsi lama masyarakat terhadap batik yang cenderung terkesan tua dan formal.

"Saya fokus membuat batik dengan motif dan desain yang modern agar bisa dipakai siapa pun, di mana pun, dan kapan pun," terang Aditya, Selasa (6/2/2024).

Aditya yang hadir dalam workshop Melokal Dengan Batik mendorong geliat industri batik lokal di era digital.

Dalam kesempatan itu, pria lulusan University of East Anglia, London, ini mengaku, mulai terjun langsung mengembangkan usaha Batik Rianty sekira 2015 silam.

Usaha milik keluarga itu penamaannya diambil dari nama sang ibunya. Yakni, Angelina Rianty.

Menurutnya, sebelum dikelolanya, Batik Rianty belum menerapkan sistem marketing dan branding yang memadai untuk pengembangan bisnisnya.

Oleh karena itu, saat diambil alihnya fokus mengkonsepkan dan membranding toko. Termasuk pengembangan pemasaran via online yang dimulai sejak 2016-2017.

Aditya menuturkan, proses pengembangan online dilakukan bertahap. Pemasaran melalui online membantu sekali bisnis tetap survive saat pandemi lalu karena sudah mempunyai market tersendiri.

Dibandingkan dengan toko offline-nya yang tutup saat pandemi karena kebijakan pemerintah.

Aditya mengatakan saat pandemi bisnis toko offline-nya yang terletak di kawasan Malioboro itu pun terpaksa tutup sementara karena adanya kebijakan pemerintah.

Menurutnya, sudah mengetahui potensi melalui online seperti Tokopedia sudah besar pasarnya.

"Sehingga fokus di penjualan online, yang membantu naik dan pasar meluas juga ke seluruh Indonesia, di mana banyak pelanggan dari Jabodetabek juga," ungkapnya.

Batik Rianty mayoritas jenis printing sedangkan batik cap dan batik tulis lebih sedikit. Untuk desain batiknya dibuat terpisah oleh tim yang jumlah pilihan desainnya sudah mencapai ribuan.

Tidak hanya di Jalan Malioboro, Batik Rianty memiliki 13 cabang seperti di Surabaya, Bandung, dan Medan.

Diperkirakan omzetnya sekarang mencapai sekitar Rp 50 juta per bulan.

Sementara itu, Corporate Affairs Lead at Tokopedia Antonia Adega mengatakan, Batik Rianty dipilih di kampanye Melokal Dengan Batikkarena merupakan seller yang memiliki official store di Tokopedia.

Tidak hanya itu, penjualannya juga mencapai angka yang cukup baik. Segmennya juga sesuai dengan target program melokal dengan batik. (rul)

Editor : Amin Surachmad
#kolaborasi #desainer lokal #produsen batik