JOGJA - Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) kemarin dari tanggal 11 sampai 13 Agustus di Tower Convention and Hotel Jl KH Ahmad Dahlan Jogja.
Ketua PP. Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhadjir Effendy mengatakan tema besar Rakernas MPKS PPM ini adalah Tajdid Amal Usaha Abad Ke-2 Modernisasi Manajemen Menuju Aumsos yang Profesional, Inklusif dan Mandiri.
Tema ini diambil sebagai respons terhadap peluang dan tantangan pembangunan kesejahteraan sosial yang semakin kompleks. Antara lain, karena ancaman krisis ekonomi global, disrupsi teknologi, social engagement, tuntutan publik yang makin kompleks terhadap kualitas pelayanan, dan tekanan budaya global yang merubah gaya hidup dan perilaku sosial pemerlu pelayanan sosial.
"Tajdid amal usaha bidang kesejahteraan sosial ke-2, sejatinya menjadi bagian penting dari spirit Muhammadiyah Unggul Berkemajuan yang menjadi tagline kebijakan program dalam lima tahun keempat (2022-2027)," ujarnya.
Muhadjir juga mengatakan, identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid, beraqidah Islam, bersumber pada Alquran dan sunnah dengan maksud dan tujuan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Adapun dakwah dan tajdid bagi Muhammadiyah merupakan jalan perubahan untuk mewujudkan Islam sebagai agama bagi kemajuan hidup umat manusia sepanjang zaman.
"Dalam perspektif Muhammadiyah, Islam merupakan agama yang berkemajuan yangkehadirannya membawa rahmat bagi semesta kehidupan," katanya.
Menurut Muhadjir jalan perubahan atau transformasi tersebut sesuai dengan visi pengembangan persyarikatan 2022-2027. Yakni, untuk meningkatnya sinergi dengan seluruh komponen umat, bangsa, dan kemitraan internasional.
Ini agar terciptanya pranata sosial berkemajuan bagi tumbuh dan kembangnya nilai-nilai Islam di Indonesia. Ini sebagaimana tujuan Muhammadiyah dengan tetap meningkatkan kualitas persyarikatan dan amal usaha secara berkesinambungan.
Muhadjir juga mengungkapkan, kelembagaan dan SDM sebagai masalah utama. Ini tentu membutuhkan ikhtiar, sinergi dan kolaborasi yang kuat dengan seluruh stakeholders yang terkait.
Disamping itu, beberapa persoalan yang kini dihadapi oleh amal usaha sosial Muhammadiyah. Sampai dengan akhir Desember 2022, jumlah Amal Usaha bidang pelayanan sosial mencapai 615 buah.
Dari jumlah itu, sebanyak 595 adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), 16 Panti Lansia (Muhammadiyah Senior Care), dan 4 Panti Disabilitas. Tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan tenaga pengasuh lebih dari tiga ribu orang.
Jika dirinci hingga saat ini, perkiraan anak yang diasuh oleh LKSA mencapai 8.999 anak (dalam panti) dan 6.202 anak (luar panti). Sedangkan 16 Panti Lansia (MSC) mengelola 80 orang dan untuk 4 Panti Disabilitas mengelola 88 orang di dalam panti dan 45 orang di luar panti. Dari jumlah Aumsos tersebut, jumlah pengelola/pengurus panti sebanyak
3.075 sedangkan jumlah pengasuh sebanyak 615 orang.
Dari sisi jumlah pertumbuhan aumsos Muhammadiyah sangat pesat. Hal ini karena modal semangat dan keikhlasan warga Muhammadiyah untuk menginisiasi lahirnya aumsos dan sekaligus memperjuangkannya untuk bisa berdiri dan bertahan untuk waktu yang lama.
"Karena pentingnya persoalan ini, dalam Rakernas I ini, maka tema Modernisasi Manajemen Menuju Aumsos yang Profesional, Inklusif dan Mandiri, sekaligus sebagai dukungan terhadap program pemerintah dalam bidang pembangunan kesejahteraan Sosial," tandas Muhadjir Effendy (ayu)
Editor : Amin Surachmad